Pages

Saturday, December 18, 2010

Neraca Pembayaran China yang mengalami Surplus dan Dampaknya dengan Amerika Serikat

Surplus perdagangan China terus tumbuh. Baik ekspor maupun impor tumbuh pada bulan Oktober. Akibatnya, tekanan internasional atas China pada forum KTT G-20 diprediksi naik. Surplus perdagangan China bulan Oktober secara tahunan (year on year/yoy) tumbuh menjadi USD27,15 miliar. “Ekspor naik 22,9 persen yoy pada Oktober menjadi USD135,98 miliar, sementara impor tumbuh 25,3 persen yoy menjadi USD108,83 miliar,” kata Pemerintah China dalam pernyataan resmi kemarin. Berdasarkan data dari Pemerintah China dan Amerika Serikat (AS), defisit Paman Sam tercatat USD45 miliar. Brian Jackson, Senior Strategist Royal Bank of Canada, berpendapat, data baru ini akan menjadi bahan bakar debat ketidakseimbangan perdagangan global dalam forum G-20. “Kesenjangan keseimbangan perdagangan global akan menjadi kunci utama perhatian pejabat AS yang terbang ke forum G-20 di Seoul. Ini akan memperberat tekanan dunia internasional kepada China atas kebijakan yuan yang harus mendukung perekonomian global,” ujar Jakson.
Sebelumnya China dikritik karena nilai tukar yuan dinilai 40 persen lebih rendah dari nilai sebenarnya. Ini memberikan keuntungan perdagangan yang tidak adil bagi eksportir China. Sebab, secara artifisial barang produksi China lebih murah. China menetapkan nilai paritas tengah kurs yuan, kisaran nilai yuan yang boleh diperdagangakan, pada 6,645 yuan per USD1.
Ini merupakan posisi yuan terkuat sejak China melaksanakan reformasi mata uang pada 2005. Surplus perdagangan China lebih tinggi dari prediksi karena impor lebih rendah dari target yang diantisipasi. “Impor lebih rendah dari ekspektasi pasar menunjukkan permintaan domestik tidak sekuat yang dibayangkan,” ungkap ekonom China International Capital Corporation Jason Xu.
Data Oktober ini mungkin ditanggapi Pemerintah China dengan mengizinkan nilai tukar yuan terhadap dolar AS menguat lebih cepat lagi. Sementara, Gubernur Bank Sentral China (PBOC) Zhou Xiaochuan menyatakan, dirinya menolak kebijakan revaluasi yuan yang agresif atau “shock therapy”. PBOC lebih memilih penguatan yang bertahap hingga pada titik ekuilibrium baru. Meski begitu, Ekonom Daiwa Capital Markets Hong Kong Kevin Lai menilai, data Oktober masih belum merepresentasikan kondisi riil China secara tahunan.
Sebab, 2009 adalah tahun di mana kinerja ekspor China berada di titik terendah akibat krisis keuangan global. Jika dilihat, ekspor cenderung flatsejak Agustus 2010. “Saya melihatnya flat lagi, menunjukkan lonjakan permintaan pada Natal tidak material. Jadi secara umum belum merupakan berita bagus,” jelas Lai. Data yang diumumkan Departemen Keuangan China ini akan memicu debat mata uang dan ketidakseimbangan ekonomi pada KTT G-20. “Kritik terus bermunculan. Mereka tidak akan berkompromi. Namun,pintu tetap terbuka karena debat akan memanas dan kita kekurangan oksigen,” kata Juru Bicara Komite Presidensial G-20 KimYoon-Kyung.
Yoon-Kyung memaparkan, dalam pertemuan tingkat menteri di Gyeongju, G-20 sepakat menghindari kebijakan devaluasi mata uang dan membatasi ketidakseimbangan perdagangan. Sementara, Badan Ekonomi Nasional Gedung Putih Larry Summers mengharapkan, pemimpin G-20 membuat perubahan dengan menyelesaikan masalah ketidakseimbangan perdagangan yang besar.


Tanggapan Amerika Serikat
Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama berdalih jika pihaknya hanya ingin menciptakan situasi perekonomian global yang kondusif dalam forum G20. Hal ini diungkapkan oleh Obama dalam konferensi pers bersama Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, menanggapi pertanyaan tentang apa yang akan AS tekankan dalam pertemuan G20, di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (9/11/2010).

"Kami hanya ingin menciptakan situasi yang kondusif," kata Obama. Obama mengaku, jika pihaknya memang mengalami tekanan dari rendahnya nilai mata uang China, yuan. Di mana kinerja ekspor AS mengalami pelemahan akibat rendahnya nilai yuan. "(Rendahnya) mata uang (yuan) memang melemahkan posisi kami," imbuhnya. Dia juga menegaskan, jika dalam forum G20 mendatang, dirinya akan memfokuskan diri untuk membenahi pasar uang yang dia nilai tidak teratur.
"Pergerakan nilai mata uang tampak berjalan tidak teratur. Untuk itu kami akan mengusulkan dalam forum G20 agar pasar uang diatur, agar nilai tukar mata uang menjadi teratur," bebernya.


Kesimpulan :
Pada tahun ini China memang mengalami pertumbuhan ekonomi yang membaik. Dilihat dari neraca pembayaran serta lebih besarnya nilai ekspor ke luar negeri dari pada impor ke dalam negeri. Bisa dikatakan perekonomian dunia mulai dikuasai oleh negara China.
Sedangkan presiden Amerika Serikat dalam menanggapai hal ini menagatakan bahwa rendahnya nilai mata uang yuan yang melemahkan perekonomian Amerika Serikat. Dan beliau menyarankan agar pasar uang lebih diatur lagi sehingga nilai tukarnya menjadi teratur dan tidak menguntungkan satu pihak saja. Kondisi perekonomian Amerika Serikat yang belum mengalami titik balik positif tentu meresahkan pemerintah dan rakyatnya. Harga barang di pasaran meningkat, pengangguran pun bertambah serta inflasi mencerminkan buruknya kondisi perekonomian Amerika Serikat.



No comments:

Post a Comment