Pages

Saturday, December 18, 2010

Game Online jadi permainan baru yang meresahkan??

          Pertumbuhan pemakai jasa internet semakin meningkat. Hal ini berimbas pada maraknya pengusaha warnet di kota Medan, terutama daerah sekitar kampus. Internet bisa dikategorikan sebagai salah satu kebutuhan primer mahasiswa. Banyak hal yang bisa dilakukan disana. Dunia tanpa batas ini memang menyediakan semua akses yang ingin diketahui bahkan dari belahan dunia manapun. Untuk itu, pengusaha jeli melihat bidang bisnis yang dianggap menjanjikan ini.
          Terlepas dari itu, internet sendiri selain memiliki efek positif juga memiliki efek negatif yang cukup berbahaya. Ada fasilitas game online disana. Dimana seorang pengguna jasa ini dapat menikamti suhugan berbagai permainan menarik secara online, yakni dapat dimainkan oleh pengguna dari daerah lain dan bermain bersama. Untuk mereka yang gemar bermain game dan sulit untuk membagi waktu, ini menjadi boomerang tersendiri. Karena akan menimbulkan keasyikan samapi melupakan waktu, bahkan untuk pelajar dan mahasiswa akan mengurangi waktu belajar mereka. Ketagihan ini juga memerlukan biaya yang tidak sedikit. Biayanya sekitar Rp 3000 – Rp 5000/jamnya. Dan biasanya gamers (baca : sebutan untuk penyuka game) memainkannya selama 3 jam. Bagimana jika hal ini dilakukan setiap hari atau minimal 3 kali dalam seminggu. Berapa rupiah yang harus dihabiskan. Padahal rata-rata para pelajar dan mahasiswa ini masih tergantung dari biaya yang diberika oleh orang tua. Sungguh tragis jika orang tua mereka yang berpendapatan pas-pasan harus menggocek uang jajan lebih untuk anak-anaknya. Hal paling buruknya ialah jika samapai harus mendapatkan uang tersebut dengan paksa atau criminal seperti mencuri.
Selain itu, ada efek lain yang ditimbulkan. Tanpa disadari, gamers akan disituasikan dalam kondisi dimana mereka hanya berhadapan dengan dunia maya, dunia tak terlihat, bebas melakukan, berbicara apa saja. Sehingga lambat laun timbul sifat suka dengan dunia mereka sendiri dan sulit untuk berkomunikasi dan berinteraksi sosial di dunia nyata, rasa percaya diri yang kurang, minat belajar yang kurang, dan seabrek pengaruh buruk lainnya.
Entah siapa yang harus bertanggung jawab pada generasi muda ini. Padahal masa depan bangsa berada di tangan mereka. Mengerikan rasanya membayangkan samapi sejauh itu. Tapi, bukan berarti hal itu tidak mungkin terjadi. Peran dan pengawasan orang tua sanga diharapkan secara ekstra disini. Dapat dilakukan dengan pengarahan yang baik dengan cara komunikasi yang tepat. Karena yang dihadapi ialah kaum remaja dan remaja beranjak dewasa dan bahkan sebagian anak-anak yang memiliki sifat labil dalam dirinya. Selain itu, motivasi yang baik serta membangun pola pikir untuk maju dan mendahulukan prioritas masa depan boleh juga diberikan sesuai porsinya masing-masing. Dimulai dari lingkungan keluarga, lingkungan sekitar rumah, lingkungan sekolah dan lingkungan bermain yang harus diawasi secara kondusif tanpa menimbulkan perasaan terkekang oleh si anak. Semoga kebijaksanaan semua pihak termasuk penyedia jasa game online pun dapat memperhitungkan apa yang bisa terjadi di masa depan jika kondisi ini terus berlanjut.


No comments:

Post a Comment