Pages

Monday, December 20, 2010

Antara masa bermain, Prestasi dan teknologi….

Masa kanak-kanak lazimnya ialah masa bermain, Karena memang sudah kodratnya demikian. Dimana mereka berkumpul bersama teman-temannya dan bermain bersama. Dari sana pembelajaran untuk berkomunikasi antar sesama dan pengembangan kreativitas otak yang perlu digali berkembang adanya.
                Tetapi, bila dilihat di sebagian besar daerah terutama di perkotaan, nampaknya masa bermain agak mulai pudar. Sebagian besar anak telah disibukkan oleh beberapa kegiatan yang kurang antas diterima untuk umur yang begitu dini. Seperti penggunaan teknologi ponsel dan internet. Memang orang tua yang memberikan izin kepada anak-anaknya untuk memakai ponsel beralasankan demi pengawasan atau kontrol dimanakah si anak berada, tetapi menurut saya, hal itu terlalu cepat eksekusinya. Mengapa, karena si anak tampak sibuk untuk mengurusi alat main barunya itu dan bisa juga ada kemungkinan untuk mempergunakannya dengan tidak sesuai kebutuhannya/dengan hal-hal negative nantinya. Apalagi pengawasan orang tua yang kurang dapat menambah kesempatan si anak untuk lebih leluasa bertindah buruk. Selain itu, media internet juga dapat menghipnotis si anak untuk lebih erat dengan dunia maya. Banyak persediaan game yang dapat dinikmati. Bersyukur bila si anak hanya mempergunakan sebatas permainan biasa, bagaimana jika hal itu dipergunakan untuk menembus konten-konten yang tidak layak dikunjungi untuk anak seusia mereka. Konsumsi orang dewasa pun menjadi konsumsi anak-anak. Dan lagi-lagi jika orang tua tidak bisa mengendalikan melalui pengawasan yang intensif.
                Selain dua media di atas, ada lagi fenomena unik yang sedang terjadi di lingkungan kita. Maraknya audisi pencarian bakat yang menjamur di berbagai daerah baik di lingkungan rumah sampai nasional. Bukan berarti tidak terdapat efek positif didalamnya. Selain untuk menjaring bakat-bakat yang terpendam dari si anak, si anak juga diajarkan untuk memiliki jiwa kompetensi sejak dini. Tetapi, apakah penerapan hal tersebut telah tepat waktunya?
                Setiap perlombaan pasti ada menang dan kalah. Tetapi melihat setiap airmata kekalahan dan depresi yang dihadapi setiap anak yang tidak berhasil dalam lomba tersebut sepertinya kurang layak. Aroma persaingan itu terasa terlalu awal untuk dinikmati.
                Alasan-alasan di atas bisa menyebabkan si anak sulit untuk bergaul. Mengapa? Karena adanya kecenderungan atau ketertarikan dengan dunia baru mereka sendiri. Dunia internet dan teknologi seperti ponsel. Dan dunia persaingan seperti ragam audisi. Jika dalam jangka panjang, maka masa bermain pun hilang. Dan si anak akan terpaksa dipaksa dewasa sebelum waktunya. Mungkin ada kapasitas profesi lain yang bisa menerangkan efek lain jangka panjang dari faktor-faktor tersebut. Yang jelas dari kacamata saya, malah akan menimbulkan masalah tersendiri di masa depan. Semua bisa dicegah dan berawal dari keluarga. 


Saturday, December 18, 2010

Game Online jadi permainan baru yang meresahkan??

          Pertumbuhan pemakai jasa internet semakin meningkat. Hal ini berimbas pada maraknya pengusaha warnet di kota Medan, terutama daerah sekitar kampus. Internet bisa dikategorikan sebagai salah satu kebutuhan primer mahasiswa. Banyak hal yang bisa dilakukan disana. Dunia tanpa batas ini memang menyediakan semua akses yang ingin diketahui bahkan dari belahan dunia manapun. Untuk itu, pengusaha jeli melihat bidang bisnis yang dianggap menjanjikan ini.
          Terlepas dari itu, internet sendiri selain memiliki efek positif juga memiliki efek negatif yang cukup berbahaya. Ada fasilitas game online disana. Dimana seorang pengguna jasa ini dapat menikamti suhugan berbagai permainan menarik secara online, yakni dapat dimainkan oleh pengguna dari daerah lain dan bermain bersama. Untuk mereka yang gemar bermain game dan sulit untuk membagi waktu, ini menjadi boomerang tersendiri. Karena akan menimbulkan keasyikan samapi melupakan waktu, bahkan untuk pelajar dan mahasiswa akan mengurangi waktu belajar mereka. Ketagihan ini juga memerlukan biaya yang tidak sedikit. Biayanya sekitar Rp 3000 – Rp 5000/jamnya. Dan biasanya gamers (baca : sebutan untuk penyuka game) memainkannya selama 3 jam. Bagimana jika hal ini dilakukan setiap hari atau minimal 3 kali dalam seminggu. Berapa rupiah yang harus dihabiskan. Padahal rata-rata para pelajar dan mahasiswa ini masih tergantung dari biaya yang diberika oleh orang tua. Sungguh tragis jika orang tua mereka yang berpendapatan pas-pasan harus menggocek uang jajan lebih untuk anak-anaknya. Hal paling buruknya ialah jika samapai harus mendapatkan uang tersebut dengan paksa atau criminal seperti mencuri.
Selain itu, ada efek lain yang ditimbulkan. Tanpa disadari, gamers akan disituasikan dalam kondisi dimana mereka hanya berhadapan dengan dunia maya, dunia tak terlihat, bebas melakukan, berbicara apa saja. Sehingga lambat laun timbul sifat suka dengan dunia mereka sendiri dan sulit untuk berkomunikasi dan berinteraksi sosial di dunia nyata, rasa percaya diri yang kurang, minat belajar yang kurang, dan seabrek pengaruh buruk lainnya.
Entah siapa yang harus bertanggung jawab pada generasi muda ini. Padahal masa depan bangsa berada di tangan mereka. Mengerikan rasanya membayangkan samapi sejauh itu. Tapi, bukan berarti hal itu tidak mungkin terjadi. Peran dan pengawasan orang tua sanga diharapkan secara ekstra disini. Dapat dilakukan dengan pengarahan yang baik dengan cara komunikasi yang tepat. Karena yang dihadapi ialah kaum remaja dan remaja beranjak dewasa dan bahkan sebagian anak-anak yang memiliki sifat labil dalam dirinya. Selain itu, motivasi yang baik serta membangun pola pikir untuk maju dan mendahulukan prioritas masa depan boleh juga diberikan sesuai porsinya masing-masing. Dimulai dari lingkungan keluarga, lingkungan sekitar rumah, lingkungan sekolah dan lingkungan bermain yang harus diawasi secara kondusif tanpa menimbulkan perasaan terkekang oleh si anak. Semoga kebijaksanaan semua pihak termasuk penyedia jasa game online pun dapat memperhitungkan apa yang bisa terjadi di masa depan jika kondisi ini terus berlanjut.


Teori Keunggulan Komparatif

Teori keunggulan komparatif (comparative advantage theory) dikemukakan oleh David Ricardo. Teori ini mencoba melihat kuntungan atau kerugian dalam perbandingan relatif. Dalam teori ini, Negara yang memiliki kerugian absolut dari suau baran apat melakukan perdagangan terhadap Negara lain dengan melakukan spesialissi terhadap barang yang memiliki kerugian absolute terkecil dan memproduksinya dalam jumlah besar lalu mengekspornya ke negara lain.
Ada beberapa asumsi yang perlu diperhatikan dalam teori ini :

1. Labor Theory of Value, yaitu bahwa nilai suatu barang ditentukan oleh jumlah tenaga kerja yang dipergunakan untuk menghasilkan barang tersebut, dimana nilai barang yang ditukar seimbang dengan jumlah tenaga kerja yang dipergunakan untuk memproduksinya.
2. Perdagangna internasional dilihat sebagai pertukaran barang dengan barang.
3. Tidak diperhitungkannya biaya dari pengangkutan dan lain-lain dalam hal pemasaran
4. Produksi dijalankan dengan biaya tetap, hal ini berarti skala produksi tidak berpengaruh.
5. Faktor produksi sama sekali tidak mobilitas antar negara. Oleh karena itu , suatu negara akan melakukan spesialisasi dalam produksi barang-barang dan mengekspornya bilamana negara tersebut mempunyai keuntungan dan akan mengimpor barang-barang yang dibutuhkan jika mempunyai kerugian dalam memproduksi.
6. tidak ada perubahan teknologi.
Paham klasik dapat menerangkan comparative advantage yang diperoleh dari perdagangan luar negeri timbul sebagai akibat dari perbedaan harga relatif ataupun tenaga kerja dari barang-barang tersebut yang diperdagangkan.
  
Contoh :
 Komoditas                             Amerika Serikat                           Jepang                Jumlah
Ton beras                                             6                                              3                          9
 Mobil                                                  5                                              4                          9


Masing-masing negara melakukan spesialisasi. Apabila masing-masing negara melakukan spesialisasi dalam apa yang dikerjakannya paling baik, keluarannya akan menjadi sebagai berikut:

Komoditas                    Amerika Serikat                      Jepang                Jumlah
Ton beras                                  12                                     0                        12
Mobil                                          0                                     8                          8


Syarat-syarat perdagangan. Dalam hal ini, syarat-syarat perdagangan akan berada di antara satu ton beras untuk lima per enam mobil yang harus dibayar oleh petani Amerika di Amerika Serikat, dan satu sepertiga mobil Jepang harus dibayar oleh pembuat mobil Jepang untuk satu ton beras Jepang.
Asumsikan bahwa para pedagang setuju atas tingkat pertukaran (kurs) satu mobil untuk satu ton beras. Keduanya akan memperoleh keuntungan dari pertukaran dan spesialisasi ini, seperti diperlihathan berikut ini:

Komoditas                            Amerika Serikat                            Jepang
Ton beras                                         8                                            4
Mobil                                               4                                            4

Perhatikan bahwa perdagangan ini meninggalkan Amerika Serikat dengan beberapa beras surplus dan satu mobil lebih sedikit daripada yang ia miliki sebelumnya. Jepang mempunyai lebih banyak beras dan jumlah mobil yang sama. Namun para petani beras Amerika seharusnya dapat memperdagangkan dua ton beras surplus untuk dua mobil di tempat lain. Maka hasil akhirnya akan berupa:

 Komoditas                            Amerika Serikat                           Jepang

            Ton beras                                        6                                            4
Mobil                                              6                                            4

Keuntungan yang diperoleh dari spesialisasi dan perdagangan. Keuntungan spesialisasi dan perdagangan yang diperoleh dalam hal ini adalah sebagai berikut:

Komoditas                            Amerika Serikat                           Jepang

Ton beras                                                                                        1
Mobil                                                 1





Linear Programing

Linear programming adalah salah satu pendekatan matematika yang paling sering dipergunakan dan diterapkan dalam keputusan-keputusan manajerial. Tujuan dari penggunaan linear programming ialah untuk menyusun suatu model yang dapat dipergunakan untuk membantu pengambilan keputusan dalam menentukan alokasi yang optimal dari sumber daya perusahaan ke berbagai alternatif. Penggunaan model linear programming dalam hal ini adalah mengalokasikan sumber daya tersebut sedemikian rupa sehingga laba akan maksimum atau alternatif biaya adalah minimum.
            Ada empat kondisi utama yang diperlukan dalam penerapannya :
1.      Harus adanya sumber daya yang terbatas
2.      Ada suatu fungsi tujuan seperti memaksimalkan laba atau meminimalkan biaya.
3.      Harus ada linearitas
4.      Harus ada keseragaman

FORMULASI MODEL
Contoh :
g1(x1,x2,.......,xn) = b2
keterangan :     x1, x2, xn = variabel keputusan (decision variables)
                        g2 = fungsi kendala (constraint fungctions)
                        b2 = parameter yang dinyatakan dalam angka

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam praktik penyusunan model linear programming :
  1. Tujuan dari permasalahan hendaknya dinyatakan dengan kalimat.
  2. Variabel-variabel keputusan yang baik untuk fungsi tujuan dan fungsi kendala harus ditentukan.
  3. Perlu diperhatikan kesatuan unit yang dipergunakan.

Formulasi model linier programming akan semakin bertambah mudah jika proses penyusunan modelnya mengikuti ketentuan sebagai berikut :
  1. Formulasi linear programming hanya akan mempunyai fungsi tujuan maksimisasi atau minimisasi dan tidak mungkin terjadi kedua-duanya
  2. Jika data atau masalah yang dihadapi hanya memberi infromasi tentang harga jual atau laba suatu produk dan tidak ada data moneter lainnya maka fungsi tujuan adalah maksimisasi harga jual produk atau laba produk.
  3. Jika data atau masalah yang dihadapi hanya memberi informasi tentang biaya suatu produk maka fungsi tujuan adalah minimisasi biaya produksi.
  4. Jika data atau masalah yang dihadapi memberikan infromasi tentang harga jual produk dan biayanya maka harus dicari terlebih dahulu laba per unit produk dan fungsi tujuannnya adalah maksimisasi laba produk.
  5. Dalam penyusunan kendala atau constraint, suatu pernyataan tentang persyaratan selalu dinyatakan dengan tanda ≥.

CONTOH FORMULASI MODEL LINEAR PROGRAMMING
PT. ABC memproduksi 2 macam radio, yaitu tipe 1 dan tipe 2. Kedua radio itu dijual dengan menghasilkan laba masing-masing Rp15.000 dan Rp20.000 per unit. Untuk memproduksi kedua macam radio tersebut diperlukan proses produksi di tiga bagian, yaitu bagian prossessing, assembling, dan packaging. Data waktu yang diperlukan untuk memproduksi per unit radio tampak pada tabel berikut
bagian
Jenis radio
Tipe 1
Tipe 2
Prossessing
Assembling
Packaging
2
1
0,5
2,5
1,5
1
Dari catatan produksi diperoleh data bahwa waktu yang tersedia per bulan untuk ketiga bagian tersebut adalah 1.000 jam untuk bagian prossesing, 1.200 jam untuk bagian assembling, dan 2.000 jam untuk bagian packaging. Selanjutnya, bagian pemasaran menghendaki bahwa radio tipe 1 diproduksi minimal 100 unti. Susunlah formulasi model linier programmingnya.

Jawab :
Variabel keputusan :
x1 =      jumlah radio tipe i yang diproduksi per bulan dalam unit, dimana i = 1,
            2 untuk masing-masing tipe.
Model linear programming:
Maks.  15.000x1 + 20.000x2
s.k        2x1 + 2,5x2 ≤ 1.000
            x1 + 1,5x2 ≤ 2.000
            0,5x1 + x2 ≤ 2.000
            x1 ≥ 100
            x1 ≥ 0, untuk i = 1,2.

  
PENERAPAN MODEL LINEAR PROGRAMMING DALAM BIDANG-BIDANG FUNGSIONAL
1.      Penerapan dalam transportasi dan masalah.
Masalah transportasi timbul karena transportasi produk yang bersifat homogen dari berbagai sumber (supply) ke berbagai tempat penjualan (demand). Alokasi produk dari daerah supply ke daerah demand ini dilakukan dengan tujuan memaksimalkan laba dari penjualan produk atau alternatifnya adalah menimalkan biaya transportasi produk.
2.      Penerapan dalam bidang keuangan
Dalam analisis investasi, tujuan yang hendak dicapai biasanya ialah expected returns. Untuk memaksimalkannya sering dihadapkan dengan berbagai masalah, seperti dana yang tersedia.
3.      Penerapan dalam bidang produksi.
Dengan bantuan pemecahan melalui linear programming ini memungkinkan manajer perusahaan untuk merancang jadwal produksi yang efisien. Manajer dapat menentukan tingkat/level produksi yang memungkinkan perusahaan dapat memenuhi permintaan pasar, subyek kepada keterbatasan dari kapasitas produksi, kapasitas gudang, dan tenaga kerja.
4.      Penerapan dalam bidang pemasaran
Diantaranya ialah masalah alokasi dengan anggaran biaya advertensi, pemilihan media promosi, serta manajemen retailer dan salesman.
5.      Penerapan dalam bidang personalia.
Diantaranya ialah untuk merencanakan jumlah jam kerja pegawai, menentukan jumlah petugas yang akan melaksanakan pekerjaan, dan masalah-masalah personalia lainnya. 

6.      Penerapannya dalam bidang perencanaan fasilitas.
Berkaitan dengan masalah penentuan lokasi gudang, jumlah fasilitas, dan sistem logistik, serta masalah transportasi dan penentuan lokasi pabrik.



Pertanyaan :
1)                  Berikanlah pengertian tentang model linear programming!
Ø  Model linear programming ialah salah satu pendekatan matematika yang paling sering dipergunakan dan diterapkan dalam keputusan-keputusan manajerial dan bertujuan untuk menyusun suatu model yang dapat dipergunakan untuk membantu pengambilan keputusan dalam menentukan alokasi optimal dari sumber daya perusahaan ke berbagai alternatif.
2)                  Jelaskan empat kondisi yang diperlukan bagi penerapan linear programming!
Ø  Harus adanya sumber daya yang terbatas. Keterbatasnnya mencakup tenaga kerja, peralatan, keuangan, bahan, dan sebagainya. Tanpa keterbatasan ini, tidak akan muncul masalah.
Ø  Ada suatu fungsi tujuan seperti memaksimalkan laba atau menimalkan biaya.
Ø  Harus ada linearitas, misalnya jika diperlukan lima jam untuk membuat sebuah barang maka dua buah barang akan membutuhkan waktu sepuluh jam.
Ø  Harus ada keseragaman, misalnya barang-barang yang diproduksi oleh suatu mesin adalah identik, atau semua jam kerja yang tersedia dari seorang pekerja adalah sama produktifnya.
3)                  Formulasikan bentuk umum dari model optimasi dengan kendala!
Ø  Maks atau min.            f(x1, x2, ..........................., xn)
g1(x1, x2, ........................, xn) ≥ b1
            keterangan :     x1, x2 = variabel keputusan
                                    g1        = fungsi kendala
                                    b1        = parameter angka
4)         apakah yang dimaksud dengan fungsi tujuan dan fungsi kendala?
Ø  Fungsi tujuan ialah fungsi yang terdapat dalam model bentuk linear programming yang bertujuan untuk memaksimalkan laba dan meminimalkan biaya.
Ø  Fungsi kendala ialah fungsi yang terdapat dalam linear programming yang harus memenuhi kondisi atau persyaratan yang dinyatakan sebagai persamaan atau ketidaksamaan matematika.
5)         apakah yang dimaksud dengan variabel keputusan?
Ø  Variabel keputusan ialah variabel x1, x2, x3, ...., xn yang terdapat dalam model linear programming.
6)         apa saja hal yang perlu diperhatikan dalam praktek penyusunan model linear programming dari suatu permasalahan?
Ø  Tujuan dari permasalahan hendaknya dinyatakan dalam kalimat. Demikian pula dengan setiap kendala yang harus dipenuhi.
Ø  Variabel-variabel keputusan baik untuk fungsi tujuan dan fungsi kendala harus ditentukan.
Ø  Kesatuan unit yang digunakan. Unit satuan antara koefisien dari fungsi tujuan dan fungsi kendala dengan variabel-variabel keputusan harus konsisten.
7)         sebutkan 3 ketentuan yang akan mempermudah proses formulasi model linear programming!
Ø  Formulasi model linear programming hanya akan mempunyai fungsi tujuan maksimisasi atau minimisasi dan tidak terjadi kedua-duanya.
Ø  Jika masalah yang dihadapi hanya memberi informasi tentang harga jual atau laba suatu produk dan tidak ada data moneter lainnya maka fungsi tujuan adalah maksimisasi harga jual produk atau laba produk.
Ø  Jika masalah yang dihadapi hanya memberi informasi tentang biaya suatu produk maka fungsi tujuan adalah minimisasi biaya produksi.



8)         sebutkan beberapa penerapan model programming dalam bidang-bidang fungsional!
Ø  Penerapan dalam transportasi dan masalah.
Ø  Penerapan dalam bidang keuangan
Ø  Penerapan dalam bidang produksi.
Ø  Penerapan dalam bidang pemasaran
Ø  Penerapan dalam bidang personalia.
Ø  Penerapannya dalam bidang perencanaan fasilitas.

9)         sebutkan masalah yang biasanya terjadi dalam penerapan model linear programming dalam bidang perencanaan fasilitas?
Ø  Berkaitan dengan masalah penentuan lokasi gudang, jumlah fasilitas, dan sistem logistik, serta masalah transportasidan penentuan lokai pabrik.

10)       apa saja bagian dari model linear programming?
Ø  Fungsi tujuan (objective function)
Ø  Kendala-kendala (constraints)
Ø  Variabel keputusan (desicion variables)
Ø  Sejumlah parameter angka.


KEPEMIMPINAN DAN KEKUASAAN

KEPEMIMPINAN

A.    Pengertian

Kepemimpinan adalah kemampuan untuk mempengaruhi kelompok menuju pencapaian sasaran yang muncul dari dalam dan merupakan buah dari keputusan seseorang untuk mau menjadi pemimpin, baik bagi dirinya sendiri, bagi keluarganya, bagi lingkungan pekerjaannya, maupun bagi lingkungan sosial dan bahkan bagi negerinya.
Sumber dari pengaruh ini dapat bersifat formal, seperti yang disajikan kepemilikan peringkat manajerial dalam organisasi. Tidak semua pemimpin itu adalah manajer, dan sebaliknya tidak semua manajer itu pemimpin.
Kepemimpinan bukanlah jabatan atau gelar, melainkan sebuah kelahiran dari proses panjang perubahan dalam diri seseorang. Ketika seseorang menemukan visi dan misi hidupnya, ketika terjadi kedamaian dalam diri (inner peace) dan membentuk bangunan karakter yang kokoh, ketika setiap ucapan dan tindakannya mulai memberikan pengaruh kepada lingkungannya, dan ketika keberadaannya mendorong perubahan dalam organisasinya, pada saat itulah seseorang lahir menjadi pemimpin sejati. Dengan kata lain, pemimpin dapat muncul dari ndalam kelompok sekaligus melalui pengangkatan formal untuk memimpin kelompok.
Pemimpin dan Kepemimpinan  merupakan suatu kesatuan kata yang tidak dapat dipisahkan secara struktural maupun fungsional. Banyak muncul pengertian-pengertian mengenai pemimpin dan kepemimpinan, natara lain :
o   Pemimpin adalah figur sentral yang mempersatukan kelompok (1942)
o   Kepemimpinan adalah keunggulan seseorang atau beberapa individu dalam kelompok, dalam proses mengontrol gejala-gejala sosial
o   Brown (1936) berpendapat bahwa pemimpin tidak dapat dipisahkan dari kelompok, akan tetapi boleh dipandang sebagai suatu posisi dengan potensi tinggi di lapangan. Dalam hal sama, Krech dan Crutchfield memandang bahwa dengan kebaikan dari posisinya yang khusus dalam kelompok ia berperan sebagai agen primer untuk penentuan struktur kelompok, suasana kelompok, tujuan kelompok, ideologi kelompok, dan aktivitas kelompok.
o   Kepemimpinan  sebagai suatu kemampuan meng-handel orang lain untuk memperoleh hasil yang maksimal dengan friksi sesedikit mungkin dan kerja sama yang besar, kepemimpinan merupakan kekuatan semangat/moral yang kreatif dan terarah.

B.     Teori Kepemimpinan
a.      Teori Ciri Kepemimpinan
Merupakan teori-teori yang mengkaji ciri-ciri dan karakteristik pribadi yang membedakan pemimpin dan bukan pemimpin
Pendekatan ini memiliki keterbatasan,yaitu:
-          tidak terdapat ciri-ciri universal yang memperkirakan kepemimpinan dalam semua situasi
-          ciri-ciri memperkirakan perilaku lebih dalam situasi yang “lemah”daripada situasi yang “kuat”
-          bukti tidak jelas dalam memisahkan penyebab dan akibat.

b.      Teori Perilaku Pemimpin
Merupakan teori yang mengemukakan bahwa perilaku khusus membedakan pemimpin dari bukan pemimpin.

c.       Teori Kontinjensi ( Fiedler )
Merupakan teori bahwa kelompok- kelompok efektif tergantung pada penyesuaian yang tepat antara gaya pemimpin dalam berinteraksi dengan bawahan dan tingkat dimana situasi tertentu memberikan kendali dan pengaruh ke pemimpin itu.
Fiedler mengatakan bahwa gaya kepemimpinan individu bersifat tetap, karena jika situasi menuntut pemimpin yang berorientasi –tugas sedangkan orang dalm posisi kepemimpinan itu berorientasi- hubungan.

d. Teori Sumberdaya Kognitif
Merupakan teori kepemimpinan yang menyatakan bahwa stress secara negatif mempengaruhi situasi dan bahwa intelegensia dan pengalaman dapat mengikis pengaruh stress yang dialami pemimpin.

e. Teori Kepemimpinan Situasional Hersey dan Blanchard (SLT)
    Merupakan teori kontijensi yang berfokus pada kesiapan pengikut. Kepemimpinan yang berhasil dicapai dengan memilih gaya kepemimpinan yang tepat, yang menurut argumen Hersey dan Blanchard bersifat tergantung pada tingkat kesiapan atau kedewasaan para pengikutnya.
Tekanan pada pengikut demi tercapainya efektifitas kempemimpinan memcerminkan kenyataan bahwa para pengikutlah yang menerima atau menolak pemimipin. Tidak peduli apa yang dilakukan pemimpin itu, efektifitas bergantung pada tindakan pengikutnya.
SLT pada hakikatnya memandang hubungan pemimpin-pengikut dengan analogi hubungan orang tua dan anak.

f. Teori Pertukaran Pemimpin Anggota (LMX)
            Para pemimpin menciptakan kelompok –dalam dan kelompok-luar dan bawahan dengan status kelompok –dalam akan berkinerja tinggi , memiliki tingkat pengunduran diri lebih rendah, dan tingkat kepuasan kerja lebih tinggi.

g. Teori Jalur-Sasaran
            Menyatakan bahwa tugas pemimpin adalah mendampingi pengikut dalam meraih sasaran mereka dan memberikan pengarahan san atau dukungan yang perlu untuk menjamin sasaran mereka selaras dengan sasaran keseluruhan kelompok organisasai.


C.     Tipe-tipe Kepemimpinan

o   Tipe Otokratik
Semua ilmuan yang berusaha memahami segi kepemimpinan otokratik mengatakan bahwa pemimpin yang tergolong otokratik dipandang sebagai karakteritik yang negatif.

Dilihat dari persepsinya seorang pemimpin yang otokratik adalah seseorang yang sangat egois. Seorang pemimpin yang otoriter akan menujukan sikap yang menonjolkan “keakuannya”, antara lain dalam bentuk :
ü  kecenderungan memperlakukan para bawahannya sama dengan alat-alat lain dalam organisasi, seperti mesin, dan dengan demikian kurang menghargai harkat dan martabat mereka
ü  pengutamaan orientasi terhadap pelaksanaan dan penyelesaian tugas tanpa mengkaitkan pelaksanaan tugas itu dengan kepentingan dan kebutuhan para bawahannya.
ü  Pengabaian peranan para bawahan dalam proses pengambilan keputusan.

Gaya kepemimpinan yang dipergunakan pemimpin yang otokratik antara lain:
ü  menuntut ketaatan penuh dari para bawahannya
ü  dalam menegakkan disiplin menunjukkan keakuannya
ü  bernada keras dalam pemberian perintah atau instruksi
ü  menggunakan pendekatan punitif dalamhal terhadinya penyimpangan oleh bawahan.

o   Tipe Paternalistik
Tipe pemimpin paternalistik hanya terdapat di lingkungan masyarakat yang bersifat tradisional, umumnya dimasyarakat agraris. Salah satu ciri utama masuarakat tradisional ialah rasa hormat yang tinggi yang ditujukan oleh para anggiota masyarakat kepada orang tua atau seseorang yang dituakan.
Pemimpin seperti ini kebapakan, sebagai tauladan atau panutan masyarakat. Biasanya tiokoh-toko adat, para ulama dan guru. Pemimpin ini sangat mengembangkan sikap kebersamaan.

o   Tipe Kharismatik
Tidak banyak hal yang dapat disimak dari literatur yang ada tentang kriteria kepemimpinan yang kharismatik. Memang ada karakteristiknya yang khas yaitu daya tariknya yang sangat memikat sehingga mampu memperoleh pengikut yang jumlahnya kadang-kadang sangat besar. Tegasnya seorang pemimpin yang kharismatik adalah seseorang yang dikagumi oleh banyak pengikut meskipun para pengikut tersebut tidak selalu dapat menjelaskan secara konkret mengapa orang tersebut dikagumi.


o   Tipe Laissez Faire
Pemimpin ini berpandangan bahwa umumnya organisasi akan berjalan lancar dengan sendirinya karena para anggota organisasi terdiri dari orang-orang yang sudah dewasa yang mengetahui apa yang menjadi tujuan organisasi, sasaran-sasaran apa yang ingin dicapai, tugas apa yang harus ditunaikan oleh masing-masing anggota dan pemimpin tidak terlalu sering intervensi.

Karakteristik dan gaya kepemimpinan tipe ini adalah :

ü  pendelegasian wewenang terjadi secara ekstensif
ü  pengambilan keputusan diserahkan kepada para pejabat pimpinan yang lebih rendah dan kepada petugas operasional, kecuali dalam hal-hal tertentu yang nyata-nyata menuntut keterlibatannya langsung.
ü  Status quo organisasional tidak terganggu
ü  Penumbuhan dan pengembangan kemampuan berpikir dan bertindah yang inovatif diserahkan kepada para anggota organisasi yang bersangkutan sendiri.
ü  Sepanjang dan selama para anggota organisasi menunjukkan perilaku dan prestasi kerja yang memadai, intervensi pimpinan dalam organisasi berada pada tingkat yang minimum.



o   Tipe Demokratik
ü  Pemimpin yang demokratik biasanya memandang peranannya selaku koordinator dan integrator dari berbagai unsur dan komponen organisasi.
ü  Menyadari bahwa mau tidak mau organisasi harus disusun sedemikian rupa sehingga menggambarkan secara jelas aneka ragam tugas dan kegiatan yang tidak bisa tidak harus dilakukan demi tercapainya tujuan.
ü  Melihat kecenderungan adanya pembagian peranan sesuai dengan tingkatnya.
ü  Memperlakukan manusia dengan cara yang manusiawi dan menjunjung harkat dan martabat manusia
ü  Seorang pemimpin demokratik disegani bukannya ditakuti.


D.   Model partisipasi Pemimpin
Victor Vroom dan Phillip Yetton mengembangkan suatu kepemimpinan model partisipasi pemimpin yang menghubungkan perilaku kepemimpinan dan partisipasi dengan pengambilan keputusan.
 Model partisipasi kepemimpinan, adalah suatu model teori kepemimpinan yang memberikan seperangkat aturan untuk menentukan ragam dan banyaknya pengambilan keputusan partisipasi dalam situasi yang berlainan.
 Model ini merupakan pohon keputusan yang rumit yang merangkum 7 kemungkinan dan 5 gaya kepemimpinan alternative, selanjutnya Vromm dan Arthur jago merevesi model partisipasi pemimpin dengan mempertahankan 5 gaya kepemimpinan alternative dan memperluas variable kemungkinan menjadi 12, 10 diantaranya dijawab sepanjang skala 5 titik.
 Model ini mengandaikan bahwa dari setiap lima perilaku dapat dipakai dalam suatu situasi tertentu:
ü  Otokratik I (AI), memecahkan masalah itu atau mengambil keputusan sendiri dengan menggunakan informasi yang tersedia pada saat itu.
ü  Otokratik II (CI), memperoleh informasi yang perlu dari bawahan dan kemudian memutuskan sendiri pemecahan masalahnya. Peran bawahan hanya memberikan informasi.
ü  Kosultatif I (CI), bawahan memberikan gagasan dan saran, pemimpin melalui kelompok, pemimpin mengambil keputusan yang dapat atau tidak dapat mencerminkan pengaruh bawahan.
ü  Kosultatif II (CII), bawahan memberi gagasan dan saran kepada pemimpin melalui kelompok, pemimpin mengambil keputusan yang dapat atau tidak dapat mencerminkan pengaruh bawahan
ü  Kelompok II (GII), pemimpin berbagi masalah dengan bawahan sebagai kelompok untuk bersama-sama mengevaluasi altenatif-alternatif serta berupaya untuk mencapai kesepakatan mengenai suatu pemecahan masalah.

E.    Kepemimpinan Kharismatik
Karisma berasal dari bahasa yunani diartikan karunia diispirasi ilahi (divenely inspired gift) seperti kemampuan meramal dimasa yang akan datang. Para ahli sepakat mengartikan karisma sebagai "suatu hasil persepsi para pengikut dan atribut-atribut yang dipengaruhi oleh kemampuan-kemampuan aktual dan prilaku dari para pemimpin dalam konteks situasi kepemimpinan dan dalam kebutuhan-kebutuhn individual maupun kolektif para pengikut ".
Beberapa teori kepemimpinan kharismatik :
KARAKTERISTIK KOMPETENSI (WENNIS) :
ü  Kemampuan merumuskan visi
ü  Kemampuan memberikan komunikasi visi dengan jelas, sehingga bawahan terdorong untuk memberikan komitmen
ü  Konsisten dan mampu dalam menjalankan visi
ü  Menyadari kekuatan sendiri (sebagai modal sendiri)


KARAKTER KUNCI (CONGER & KANUNGO, 1988) :
ü  Percaya diri sendiri: kemampuan mengambil keputusan & berpendapat
ü  Visi: masa depan, tidak puas status quo
ü  Kemampuan berkomunikasi: menjelaskan visi
ü  Keyakinan kuat terhadap visi: menetapkan komitmen, resiko besar
ü  Perilaku yang diluar kebiasaan: Sukses = kekaguman bawahan
ü  Agen perubahan: Perubahan radika lsecara hati-hati
ü  Sensitivitas terhadap lingkungan
Konsekuensi karismatik negatif (Conger, 1990) dapat dilihat dari pola hubungan antara lain :
ü  Hubungan antar pribadi yang jelek tidak sesuai dengan pendahulunya
ü  Konsekuensi negatif dari prilaku impulsif dan tidak konvensional
ü  Konsekuensi negatif dari manajemen kesan bahwa dirnya sangat dibutuhkan pengikut atau karena sekedar mendompleng nama pendahulunya
ü  Praktik administrasi lemah, karismatik dalam memimpin tapi sangat lemah dalam penataan aktiftas yang membutuhkan dukungan administrative
ü  Konsekuensi negatif dari dari rasa percaya diri yang lemah karena berbeda kapasitas dan kredibilitas dan dirinya memuja dirinya berlebihan (Narcisis)
ü  Gagal untuk merencanakan suksesi kepemimpinan karena belum tentu ada yang selevel dengan dirinya sehingga mematikan pengkaderan dlam organisasi.


F.     Peran pemimpin dalam kelompok
Peranan pemimpin kelompok adalah perangkat perilaku dari pemimpin kelompok yang diharapkan dilakukan melalui;
(1) peranan pemimpin dalam memotivasi anggota dalamberusaha,
(2) peranan pemimpin sebagai penghubung dengan pihak P2KP,
(3) peranan pemimpin dalam membantu mengembangkan ketrampilan anggota,
(4) peranan pemimpin dalam menjaga kekompakan kelompok,
(5) peranan pemimpindalam mengembangkan wawasan anggota,
(6) peranan pemimpin dalam membantu anggota memasarkan hasil produksi,
(7) peranan pemimpin sebagai penghubung dengan pihak lain untuk kelancaran usaha, dan
(8) peranan pemimpin dalam menjabarkan ide-ide pengembangan usaha.

G.  Kecerdesan Emosional dan Efektivitas Kepemimpinan


Kecerdasan emosional (EI) merujuk kepada kumpulan keterampilan, kapabilitas dan kompetensi nonkognitif, yang mempengaruhinkemampuan seseorang untuk berhasil dalam pekerjaan mereka.

Seperti yang ditunjukkan riset ciri kepribadian, para pemimpin memerlukan intelegensia dasar dan pengetahuan yang relevan dengan pekerjaan. Namun IQ tersebut tidak menjadi persyaratan yang cukup untuk memimpin. Tanpa EI, pribadi dapat memiliki pelatihan yang luar biasa , pikiran analitis yang tinggi , visi jangka panjang, dan pasokan tanpa akhir atas gagasan-gagasan hebat namun tetap tidak dapat menjadi pemimpin besar.

EI telah terbukti berhubungan secara positif dengan kinerja jabatan pada semua level. Namun EI sangat relevan dalam jabatan yang menuntut derajat tinggi interaksi sosial. Dan tentu saja, interaksi itu merupakan inti kepemimpinan. Para pemimpin menunjukkan EI mereka dengan memperlihatkan semua lima komponen kuncinya :
  1. Kesadaran diri ; diperlihatkan dengan kepercayaan diri, penilaian diri, yang realistis, dan rasa humor yang mencela diri sendiri.
  2. Swakelola ; diperlihatkan dengan sifat layak dipercaya dan integritas, nyaman menghadapi ambiguitas, dan keterbukaan terhadap perubahan.
  3. Motivasi diri ; diperlihatkan dengan dorongan yang kuat untuk mencapai prestasi, optimisme, dan komitmen organisasi yang tinggi.
  4. Empati ; diperlihatkan dengan keahlian membangun dan mempertahankan bakat, kepekaan  lintas budaya , dan layanan terhadap klien dan pelanggan.
  5. Keterampilan sosial ; diperlihatkan dengan kemampuan memimpin upaya perubahan, pembujukan, dan keahlian membangun dan memimpin tim.


H.    MENEMUKAN DAN MENCIPTAKAN PEMIMPIN YANG EFEKTIF

Berikut beberapa cara yang dapat dilakukan untuk dapat menemukan pemimpin yang efektif :
  1. SELEKSI
Yaitu serangkaian proses yang ditempuh organisasi untuk mengisi posisi manajemen pada hakikatnya merupakan latihan dalam upaya mengidentifikasi individu-invividu yang akan menjadi pemimpin yang efektif .
Pencarian ini dapat dimulai dengan:
Ø  meninjau persyaratan spesifik untuk posisi yang diisi . pengetahuan , keterampilan, dan kemampuan apa yang dibutuhkan untuk melakukan pekerjaan yang efektif harus menjadi focus utama.
Ø  Tes kepribadian dapat digunakan juga untuk mencari sifat-sifat yang terkait dengan kepemimpinan. Ambisi, energi, keinginan memipmpin, kejujuran dan integritas, kepercayaan diri, intelegensia, dan pengetahuan yang relevan dengan jabatan.
Ø  Wawancara juga memberikan peluang untuk mengevaluasi calon pemimpin. Dari kegiatan wawancara ini bisa kita ketahui pengalaman-pengalaman yang spesifik untuk mendekati kecocokannya dengan kriteria pemimpin yang diinginkan.

  1. PELATIHAN
Upaya kegiatan pelatihan tampil dalam berbagai bentuk mulai dari program kepemimpinan eksekutif . Kegiatan ini dapat meningkatkan kemampuan individu untuk memperlihatkan ciri kepemimpinan kharismatik sesuai keinginan organisasi.

KEKUASAAN
Kekuasaan merujuk kepada kapasitas yang dimiliki A untuk mempengaruhi perilaku B , sehingga B bertindak sesuai dengan keinginan A.
Kekuasaan bisa ada tetapi tidak digunakan. Oleh karena itu, kekuasaan adalah kapasitas atau potensi. Orang dapat mempunyai kekuasaan tetapi tidak memaksakan penggunaannya.
Agaknya aspek paling penting dari kekuasaan adalah bahwa kekuasaan merupakan fungsi dari ketergantungan. Makin besar ketergantungan B pada A , semakin besar kekuasaan A dalam hubungan itu. Selanjutnya, ketergantungan itu didasarkan pada alternatif-alternatif  yang dipersepsikan oleh B dan arti penting yang ditempatkan B pada alternatif  yang dikendalikan oleh A.

1. Perbedaaan kepemimpinan dan kekuasaan
            Pembedaaan yang cermat atas penggambaran kita tentang kekuasaan dengan penggambaran kita tentang kepemimpinan dalam bab sebelumnya mengukapkan bahwa kedua konsep itu terjalin dengan erat . para pemimpin menggunakan kekuasaan sebagai alat untuk mencapai tujuan kelompok. Pemimpin mencapai sasaran, dan kekuasaan merupakan saran untuk memudahkan pencapaian sasaran itu.
            Apakah perbedaan antara kedua istilah itu ? satu perbedaaan berkaitan dengan kompatibilitas sasaran. Kekuasaan tidak menuntut kompatibilitas sasaran, kekuasaan menurut sekedar ketergantungan. Dipihak lain kepemimpinan menuntut kongruensi antara sasaran pemimpin dan para pengikut nya.
            Kepemimpinan berfokus pada pengaruh kebawah terhadap bawahan seseorang. Kepemimpinan meminimalkan pentingnya pola pengaruh kesamping dan keatas. Kekuasaan tidak demikian. Masih terdapat perbedaan lain yang terkait dengan tekanan riset.
            Sebaliknya, riset mengenani kekuasaaan cenderung melingkupi bidang yang lebih luas dan berfokus pada taktik untuk memperoleh kepatuhan. Riset itu telah jauh melampaui individu sebagai pelaksana karena kekauasaan dapat di gunakan oeleh kelompok manapun oelh individu-individu untuk mengendalaikan indiidu atau keompok lain.

2.  Dasar-Dasar kekuasaan
A. Kekuasaan formal
            Kekuasaan formal didasarkan pada posisi individu dalam organisasi. Kekuasaan formal dapat berasal dari kemampuan untuk memaksa atau menghadiahi, dari wewenang formal, atau dari kendali atas informasi.
Ø  Kekuasaan Paksaan dasar Kekuasaan paksaan adalah ketergantungan pada rasa takut. Seseorang bereaksi terhadap kekuasaan ini karena rasa takut akan akibat negative karena rasa takut akan akibat negative yang mungkin terjadi jika ia gagal mematuhi. Kekuasaan itu bertumpu pada penerapan, atau ancaman penerapan, sanksi-sanksi fisik seperti misalnya dikenakannya rasa sakit, ditimbulkannya frustuasi melalui dorongan kebutuhan psikologi dasar atau kebutuhan keselamatan.
Ø  Kekuasaan hadiah lawan dari kekuasaaan paksaan adalah kekuasaan imbalan. Orang-orang mematuhi kemauan atau pengarahan orang lain karena pematuhan itu menghasilkan manfaat yang positif, oleh karena itu, seseorang yang dapat membagi-bagikan imbalan yang dianggap berharga oleh orang-orang lain akan mempunyai kekuasaan atas mereka. Imbalanitu dapat berupa keuangan-keuangan seperti mengendalaikan tingkat upah, kenaikan, dan bonus atau keuangan yang mencakup pengakuan jasa, promosi, pengusaha kerja yang menarik, rekan kerja yang bersahabat dan giliran kerja tau wilayah penjualan yang di sukai.
Ø  Kekuasaan hukum  dalam kelompok formal dan organisasi, agaknya akses yang paling sering ke satu atau lebih dasar kekuasaan adalah posisi structural seseorang ini disebut kekuasaan hukum kekuasaan itu menggambarkan wewenang foramal untuk mengendalikan dan menggunakan sumberdaya oraganisasi. Posisi wewenang mencakup kekuasaan paksaan dan kekuasaan imbalan. Secara spesifik kekuasaan hukum mencakup penerimaan baik wewenang jabatan oleh  anggota-anggota organisai,
Ø  Kekuasaan informasi sumber keempat dari kekuasaan formal kekuasaan informasi berasal dari akses ke dan pengendalaian atas informasi. Orang-orang dalam membuat orang lain tergantung pada mereka. Para manajer, misalnya karena akses mereka yang istimewa ke data penjualan, biaya, gaji , laba, dan data serupa,dapat menggunakan informasi ini untuk mengendalikan dan membentuk prilaku bawahan. Sama halnya, departemen yang memiliki informasi yang penting bagi kinerja perusahaan pada masa-masa yang sangat tidak pasti misalnya departeman hukum ketika perusahaan pada masa-masa yang sangat tidak pastimisalnya departemen hukum ketika perusahaan  menghadapi tuntutan perkara besar atau departemen sumber daya manusia selama perundiangan tenaga kerja yang penting akan mendapat kekuasaan yang bertamabh dalam oraganisasi mereka sampau ketidak pastian-pastian itu selesai.
B. Kekuasaan Personal
            Kekuasaan Pakar  adalah pengaruh yang dimiliki sebagai akibat dari kepakaran atau keahlian, ketrampilan istimewa, atau pengetahuan. Kepakaran telah menjadi salah satu sumber pengaruh yang paling ampuh karena dunia telah menjadi semakin berorientasi tekhnologi, karena pekerjaan menjadi lebih terspesialisasi, kita menjadi semakin bergantung pada pakar untuk mencapai sasaran.
            Kekuasaan Rujukan  didasarkan pada identifikasi dengan orang yang mempunyai sumberdaya atau cirri pribadi yang diinginkan. Jika saya menghormati dan mengaggumi anda, anda dapat menjalankan kekuasaan terhadap saya karena saya ingn menyengankan anda.
            Kekuasaan rujukan berkembang dari pengaguman terhadap orang lain dan hasrat untuk menjadi seperti orang tersebut. Kekuasaan ini membantu menjelaskan mengapa selebriti orang terebut. Kekuasaan ini membantu menjelaskan mengapa selebriti di bayar jutaan dollar untuk mendukung produk dalam iklan.
            Kekuasaan kharismatik basis kekuasaan yang berakhir adalah perluasan dari kekuasaan rujukan yang berassal dari kepribadian dan gaya interpersonal individual. Seperti sudah dikemukakan dalam bab sebelumnya, para pemimin kharismatik membuat yang lain mengikuti mereka karena mereka dapat mengartikulasikan visi yang menarik, mengambil resiko pribadi,.

3. Taktik kekuasaan
            Dalam ringakasan ini kita diberi kekuasaan yang luas mengenai taktik kekuasaan bagaimana cara karyawan manajerial mempengaruhi orang lain dan kondisi di mana satu taktik dipilih dan bukannya taktik lain. Temuan tersebut mengidentifikasi tujuh dimensi taktik strategi :
1.      Nalar               : Gunakan fakta dan data untuk membuat penyajian gagasan yang logis atau rasional
2.      Keramahan     : Gunakan sanjugan, penciptaan goodwill, bersikap rendah hati,dan bersikap bersahabat sebelum mengemukakan suatu permintaan.
3.      Koalisi              : Dapatkan dukungan orang-orang lain dalam organisasi untuk mendukung permintaan itu
4.      Tawar menawar : Gunakan perundiangan melalui pertukaran manfaat atau keuntungan
5.      Ketegasan       : Gunaakn pendekatan yang langsung dan kuat seperti misalnya menuntu pemenuhan permintaan, mengulangi peringatan, memerintahkan individu melakukan apa yang diminta, dan menujukan bahwa aturan menuntut pematuhan
6.      Otoritas lebih tinggi : Dapatkan dukungan dari tingkat lebih tinggi dalam oraganisasi untuk mendukung permintaan
7.      Sanksi              : gunakan imbalan dan hukuman yang ditentukan oleh oraganisasi seperti misalnya mencegah tau menjanjikan kenaikan gaji, mengancam dan memberikan penilaian kinerja yang tidak memuaskan tau menahan promosi.
            Para peneliti tersebut menemukan bahwa para karyawan tidak mengadalkan ketujuh taktik itu secara sama. Akan tetapi, seperti ditunjukan dalam peerage 13-2, strategi yang paling popular adalah penggunaan nalar, tidak peduli apakah pengaruh itu diarahkan keatas atau kebawah. Disamping itu, para peneliti menemukan limavariabel kontinjensiyang mempengaruhi pemilihan taktik kekuasaan, kekuasaan reality manajer, sasaran pengaruh manajer, harapan manajer akan kesediaan orang sasarna untuk patuh, budaya oraganisasi, dan perbedaaan lintass budaya.
            Kekuasaan relative manajer berdampak pada pemilihan taktik dalam 2 cara . pertama, manajer yang mengendalikan sumberdaya yang dianggap berharga oleh orang lain, atau yang dipersepsikan sebagai berada dalam posisi yang dominan, mengguanakn taktik yang jauh lebih dari beraneka ragam daripada mereka yang kekuasaannya kecil. Kedua, manajer yang memiliki kekuatan akan lebih sering menggunakan ketegasan dari pada kekuasaannya yang kecil.

4.      Kekuasaan dalam kelompok
Kekuasaan dalam kelompok sama dengan koalisi yaitu kelompok informal yang terikat bersama oleh pengejaran aktif atas satu isu tunggal. Koalisi yang berhasil ternyata mengandung keanggotaan yang berubah-ubah dan bisa cepat terbentuk, mencapai isu sasaran, dan cepat menghilang. Dalam hal ini terdapat beberapa perkiraan mengenai pembentukan koalisi, yaitu :
o   Perkiraan pertama => Koalisi dalam organisasi sering berupaya memaksimalkan ukurannya.
Ini berarti mengupayakan peningkatan jumlah anggota guna mendukung sasaran-sasaran koalisi. Perluasan koalisi untuk memudahkan pembentukan konsensus ini, lebih mungkin terjadi dalam budaya organisasi dimana kerjasama, komitmen, dan pengambilan keputusan bersama sangat di hargai.
o   Perkiraan kedua  =>    Koalisi terkait dengan kadar kesalingtergantungan di dalam organisasi.
Ini berarti kemungkinan besar lebih banyak koalisi akan tercipta dimana terdapat terdapat banyak kesalingtergantungan tugas dan sumber daya. Pembentukan koalisi akan dipengaruhi oleh tugas-tugas aktual yang dijalankan oleh para pekerja. Semakin rutin tugas kelompok, semakin besar kemungkinan koalisi yang akan terbentuk.

5.      Pelecehan seksual : Ketimpangan kekuasaan di tempat kerja
Pelecehan seksual di definisikan sebagai kegiatan apapun yang tidak diinginkan bersifat seksual yang sangat mempengaruhi pekerjaan individu tertentu. Topik pelecehan seksual ini dibahas karena berkaitan dengan kekuasaan.
Sebagian besar penelitian membenarkan bahwa konsep kekuasaan menjadi inti bagi pemahaman pelecehan seksual. Tampaknya hasil penelitian ini berlaku pada apakah pelecehan itu berasal dari penyelia, rekan sekerja atau bahkan bawahan. Kemungkinan besar masalah pada akhir-akhir ini muncul dalam bentuk pelecehan seksual yang lebih halus seperti : lelucon yang mesum, memasang gambar-gambar porno di tempat kerja, atau kesalahan penafsiran mengenai garis batas antara berakhirnya “menjadi sahabat” dan mulainya “pelecehan”.