KEPEMIMPINAN
A. Pengertian
Kepemimpinan adalah kemampuan untuk mempengaruhi kelompok menuju pencapaian sasaran yang muncul dari dalam dan merupakan buah dari keputusan seseorang untuk mau menjadi pemimpin, baik bagi dirinya sendiri, bagi keluarganya, bagi lingkungan pekerjaannya, maupun bagi lingkungan sosial dan bahkan bagi negerinya.
Sumber dari pengaruh ini dapat bersifat formal, seperti yang disajikan kepemilikan peringkat manajerial dalam organisasi. Tidak semua pemimpin itu adalah manajer, dan sebaliknya tidak semua manajer itu pemimpin.
Kepemimpinan bukanlah jabatan atau gelar, melainkan sebuah kelahiran dari proses panjang perubahan dalam diri seseorang. Ketika seseorang menemukan visi dan misi hidupnya, ketika terjadi kedamaian dalam diri (inner peace) dan membentuk bangunan karakter yang kokoh, ketika setiap ucapan dan tindakannya mulai memberikan pengaruh kepada lingkungannya, dan ketika keberadaannya mendorong perubahan dalam organisasinya, pada saat itulah seseorang lahir menjadi pemimpin sejati. Dengan kata lain, pemimpin dapat muncul dari ndalam kelompok sekaligus melalui pengangkatan formal untuk memimpin kelompok.
Pemimpin dan Kepemimpinan merupakan suatu kesatuan kata yang tidak dapat dipisahkan secara struktural maupun fungsional. Banyak muncul pengertian-pengertian mengenai pemimpin dan kepemimpinan, natara lain :
o Pemimpin adalah figur sentral yang mempersatukan kelompok (1942)
o Kepemimpinan adalah keunggulan seseorang atau beberapa individu dalam kelompok, dalam proses mengontrol gejala-gejala sosial
o Brown (1936) berpendapat bahwa pemimpin tidak dapat dipisahkan dari kelompok, akan tetapi boleh dipandang sebagai suatu posisi dengan potensi tinggi di lapangan. Dalam hal sama, Krech dan Crutchfield memandang bahwa dengan kebaikan dari posisinya yang khusus dalam kelompok ia berperan sebagai agen primer untuk penentuan struktur kelompok, suasana kelompok, tujuan kelompok, ideologi kelompok, dan aktivitas kelompok.
o Kepemimpinan sebagai suatu kemampuan meng-handel orang lain untuk memperoleh hasil yang maksimal dengan friksi sesedikit mungkin dan kerja sama yang besar, kepemimpinan merupakan kekuatan semangat/moral yang kreatif dan terarah.
B. Teori Kepemimpinan
a. Teori Ciri Kepemimpinan
Merupakan teori-teori yang mengkaji ciri-ciri dan karakteristik pribadi yang membedakan pemimpin dan bukan pemimpin
Pendekatan ini memiliki keterbatasan,yaitu:
- tidak terdapat ciri-ciri universal yang memperkirakan kepemimpinan dalam semua situasi
- ciri-ciri memperkirakan perilaku lebih dalam situasi yang “lemah”daripada situasi yang “kuat”
- bukti tidak jelas dalam memisahkan penyebab dan akibat.
b. Teori Perilaku Pemimpin
Merupakan teori yang mengemukakan bahwa perilaku khusus membedakan pemimpin dari bukan pemimpin.
c. Teori Kontinjensi ( Fiedler )
Merupakan teori bahwa kelompok- kelompok efektif tergantung pada penyesuaian yang tepat antara gaya pemimpin dalam berinteraksi dengan bawahan dan tingkat dimana situasi tertentu memberikan kendali dan pengaruh ke pemimpin itu.
Fiedler mengatakan bahwa gaya kepemimpinan individu bersifat tetap, karena jika situasi menuntut pemimpin yang berorientasi –tugas sedangkan orang dalm posisi kepemimpinan itu berorientasi- hubungan.
d. Teori Sumberdaya Kognitif
Merupakan teori kepemimpinan yang menyatakan bahwa stress secara negatif mempengaruhi situasi dan bahwa intelegensia dan pengalaman dapat mengikis pengaruh stress yang dialami pemimpin.
e. Teori Kepemimpinan Situasional Hersey dan Blanchard (SLT)
Merupakan teori kontijensi yang berfokus pada kesiapan pengikut. Kepemimpinan yang berhasil dicapai dengan memilih gaya kepemimpinan yang tepat, yang menurut argumen Hersey dan Blanchard bersifat tergantung pada tingkat kesiapan atau kedewasaan para pengikutnya.
Tekanan pada pengikut demi tercapainya efektifitas kempemimpinan memcerminkan kenyataan bahwa para pengikutlah yang menerima atau menolak pemimipin. Tidak peduli apa yang dilakukan pemimpin itu, efektifitas bergantung pada tindakan pengikutnya.
SLT pada hakikatnya memandang hubungan pemimpin-pengikut dengan analogi hubungan orang tua dan anak.
f. Teori Pertukaran Pemimpin Anggota (LMX)
Para pemimpin menciptakan kelompok –dalam dan kelompok-luar dan bawahan dengan status kelompok –dalam akan berkinerja tinggi , memiliki tingkat pengunduran diri lebih rendah, dan tingkat kepuasan kerja lebih tinggi.
g. Teori Jalur-Sasaran
Menyatakan bahwa tugas pemimpin adalah mendampingi pengikut dalam meraih sasaran mereka dan memberikan pengarahan san atau dukungan yang perlu untuk menjamin sasaran mereka selaras dengan sasaran keseluruhan kelompok organisasai.
C. Tipe-tipe Kepemimpinan
o Tipe Otokratik
Semua ilmuan yang berusaha memahami segi kepemimpinan otokratik mengatakan bahwa pemimpin yang tergolong otokratik dipandang sebagai karakteritik yang negatif.
Dilihat dari persepsinya seorang pemimpin yang otokratik adalah seseorang yang sangat egois. Seorang pemimpin yang otoriter akan menujukan sikap yang menonjolkan “keakuannya”, antara lain dalam bentuk :
ü kecenderungan memperlakukan para bawahannya sama dengan alat-alat lain dalam organisasi, seperti mesin, dan dengan demikian kurang menghargai harkat dan martabat mereka
ü pengutamaan orientasi terhadap pelaksanaan dan penyelesaian tugas tanpa mengkaitkan pelaksanaan tugas itu dengan kepentingan dan kebutuhan para bawahannya.
ü Pengabaian peranan para bawahan dalam proses pengambilan keputusan.
Gaya kepemimpinan yang dipergunakan pemimpin yang otokratik antara lain:
ü menuntut ketaatan penuh dari para bawahannya
ü dalam menegakkan disiplin menunjukkan keakuannya
ü bernada keras dalam pemberian perintah atau instruksi
ü menggunakan pendekatan punitif dalamhal terhadinya penyimpangan oleh bawahan.
o Tipe Paternalistik
Tipe pemimpin paternalistik hanya terdapat di lingkungan masyarakat yang bersifat tradisional, umumnya dimasyarakat agraris. Salah satu ciri utama masuarakat tradisional ialah rasa hormat yang tinggi yang ditujukan oleh para anggiota masyarakat kepada orang tua atau seseorang yang dituakan.
Pemimpin seperti ini kebapakan, sebagai tauladan atau panutan masyarakat. Biasanya tiokoh-toko adat, para ulama dan guru. Pemimpin ini sangat mengembangkan sikap kebersamaan.
o Tipe Kharismatik
Tidak banyak hal yang dapat disimak dari literatur yang ada tentang kriteria kepemimpinan yang kharismatik. Memang ada karakteristiknya yang khas yaitu daya tariknya yang sangat memikat sehingga mampu memperoleh pengikut yang jumlahnya kadang-kadang sangat besar. Tegasnya seorang pemimpin yang kharismatik adalah seseorang yang dikagumi oleh banyak pengikut meskipun para pengikut tersebut tidak selalu dapat menjelaskan secara konkret mengapa orang tersebut dikagumi.
o Tipe Laissez Faire
Pemimpin ini berpandangan bahwa umumnya organisasi akan berjalan lancar dengan sendirinya karena para anggota organisasi terdiri dari orang-orang yang sudah dewasa yang mengetahui apa yang menjadi tujuan organisasi, sasaran-sasaran apa yang ingin dicapai, tugas apa yang harus ditunaikan oleh masing-masing anggota dan pemimpin tidak terlalu sering intervensi.
Karakteristik dan gaya kepemimpinan tipe ini adalah :
ü pendelegasian wewenang terjadi secara ekstensif
ü pengambilan keputusan diserahkan kepada para pejabat pimpinan yang lebih rendah dan kepada petugas operasional, kecuali dalam hal-hal tertentu yang nyata-nyata menuntut keterlibatannya langsung.
ü Status quo organisasional tidak terganggu
ü Penumbuhan dan pengembangan kemampuan berpikir dan bertindah yang inovatif diserahkan kepada para anggota organisasi yang bersangkutan sendiri.
ü Sepanjang dan selama para anggota organisasi menunjukkan perilaku dan prestasi kerja yang memadai, intervensi pimpinan dalam organisasi berada pada tingkat yang minimum.
o Tipe Demokratik
ü Pemimpin yang demokratik biasanya memandang peranannya selaku koordinator dan integrator dari berbagai unsur dan komponen organisasi.
ü Menyadari bahwa mau tidak mau organisasi harus disusun sedemikian rupa sehingga menggambarkan secara jelas aneka ragam tugas dan kegiatan yang tidak bisa tidak harus dilakukan demi tercapainya tujuan.
ü Melihat kecenderungan adanya pembagian peranan sesuai dengan tingkatnya.
ü Memperlakukan manusia dengan cara yang manusiawi dan menjunjung harkat dan martabat manusia
ü Seorang pemimpin demokratik disegani bukannya ditakuti.
D. Model partisipasi Pemimpin
Victor Vroom dan Phillip Yetton mengembangkan suatu kepemimpinan model partisipasi pemimpin yang menghubungkan perilaku kepemimpinan dan partisipasi dengan pengambilan keputusan.
Model partisipasi kepemimpinan, adalah suatu model teori kepemimpinan yang memberikan seperangkat aturan untuk menentukan ragam dan banyaknya pengambilan keputusan partisipasi dalam situasi yang berlainan.
Model ini merupakan pohon keputusan yang rumit yang merangkum 7 kemungkinan dan 5 gaya kepemimpinan alternative, selanjutnya Vromm dan Arthur jago merevesi model partisipasi pemimpin dengan mempertahankan 5 gaya kepemimpinan alternative dan memperluas variable kemungkinan menjadi 12, 10 diantaranya dijawab sepanjang skala 5 titik.
Model ini mengandaikan bahwa dari setiap lima perilaku dapat dipakai dalam suatu situasi tertentu:
ü Otokratik I (AI), memecahkan masalah itu atau mengambil keputusan sendiri dengan menggunakan informasi yang tersedia pada saat itu.
ü Otokratik II (CI), memperoleh informasi yang perlu dari bawahan dan kemudian memutuskan sendiri pemecahan masalahnya. Peran bawahan hanya memberikan informasi.
ü Kosultatif I (CI), bawahan memberikan gagasan dan saran, pemimpin melalui kelompok, pemimpin mengambil keputusan yang dapat atau tidak dapat mencerminkan pengaruh bawahan.
ü Kosultatif II (CII), bawahan memberi gagasan dan saran kepada pemimpin melalui kelompok, pemimpin mengambil keputusan yang dapat atau tidak dapat mencerminkan pengaruh bawahan
ü Kelompok II (GII), pemimpin berbagi masalah dengan bawahan sebagai kelompok untuk bersama-sama mengevaluasi altenatif-alternatif serta berupaya untuk mencapai kesepakatan mengenai suatu pemecahan masalah.
E. Kepemimpinan Kharismatik
Karisma berasal dari bahasa yunani diartikan karunia diispirasi ilahi (divenely inspired gift) seperti kemampuan meramal dimasa yang akan datang. Para ahli sepakat mengartikan karisma sebagai "suatu hasil persepsi para pengikut dan atribut-atribut yang dipengaruhi oleh kemampuan-kemampuan aktual dan prilaku dari para pemimpin dalam konteks situasi kepemimpinan dan dalam kebutuhan-kebutuhn individual maupun kolektif para pengikut ".
Beberapa teori kepemimpinan kharismatik :
KARAKTERISTIK KOMPETENSI (WENNIS) :
ü Kemampuan merumuskan visi
ü Kemampuan memberikan komunikasi visi dengan jelas, sehingga bawahan terdorong untuk memberikan komitmen
ü Konsisten dan mampu dalam menjalankan visi
ü Menyadari kekuatan sendiri (sebagai modal sendiri)
KARAKTER KUNCI (CONGER & KANUNGO, 1988) :
ü Percaya diri sendiri: kemampuan mengambil keputusan & berpendapat
ü Visi: masa depan, tidak puas status quo
ü Kemampuan berkomunikasi: menjelaskan visi
ü Keyakinan kuat terhadap visi: menetapkan komitmen, resiko besar
ü Perilaku yang diluar kebiasaan: Sukses = kekaguman bawahan
ü Agen perubahan: Perubahan radika lsecara hati-hati
ü Sensitivitas terhadap lingkungan
Konsekuensi karismatik negatif (Conger, 1990) dapat dilihat dari pola hubungan antara lain :
ü Hubungan antar pribadi yang jelek tidak sesuai dengan pendahulunya
ü Konsekuensi negatif dari prilaku impulsif dan tidak konvensional
ü Konsekuensi negatif dari manajemen kesan bahwa dirnya sangat dibutuhkan pengikut atau karena sekedar mendompleng nama pendahulunya
ü Praktik administrasi lemah, karismatik dalam memimpin tapi sangat lemah dalam penataan aktiftas yang membutuhkan dukungan administrative
ü Konsekuensi negatif dari dari rasa percaya diri yang lemah karena berbeda kapasitas dan kredibilitas dan dirinya memuja dirinya berlebihan (Narcisis)
ü Gagal untuk merencanakan suksesi kepemimpinan karena belum tentu ada yang selevel dengan dirinya sehingga mematikan pengkaderan dlam organisasi.
F. Peran pemimpin dalam kelompok
Peranan pemimpin kelompok adalah perangkat perilaku dari pemimpin kelompok yang diharapkan dilakukan melalui;
(1) peranan pemimpin dalam memotivasi anggota dalamberusaha,
(2) peranan pemimpin sebagai penghubung dengan pihak P2KP,
(3) peranan pemimpin dalam membantu mengembangkan ketrampilan anggota,
(4) peranan pemimpin dalam menjaga kekompakan kelompok,
(5) peranan pemimpindalam mengembangkan wawasan anggota,
(6) peranan pemimpin dalam membantu anggota memasarkan hasil produksi,
(7) peranan pemimpin sebagai penghubung dengan pihak lain untuk kelancaran usaha, dan
(8) peranan pemimpin dalam menjabarkan ide-ide pengembangan usaha.
G. Kecerdesan Emosional dan Efektivitas Kepemimpinan
Kecerdasan emosional (EI) merujuk kepada kumpulan keterampilan, kapabilitas dan kompetensi nonkognitif, yang mempengaruhinkemampuan seseorang untuk berhasil dalam pekerjaan mereka.
Seperti yang ditunjukkan riset ciri kepribadian, para pemimpin memerlukan intelegensia dasar dan pengetahuan yang relevan dengan pekerjaan. Namun IQ tersebut tidak menjadi persyaratan yang cukup untuk memimpin. Tanpa EI, pribadi dapat memiliki pelatihan yang luar biasa , pikiran analitis yang tinggi , visi jangka panjang, dan pasokan tanpa akhir atas gagasan-gagasan hebat namun tetap tidak dapat menjadi pemimpin besar.
EI telah terbukti berhubungan secara positif dengan kinerja jabatan pada semua level. Namun EI sangat relevan dalam jabatan yang menuntut derajat tinggi interaksi sosial. Dan tentu saja, interaksi itu merupakan inti kepemimpinan. Para pemimpin menunjukkan EI mereka dengan memperlihatkan semua lima komponen kuncinya :
- Kesadaran diri ; diperlihatkan dengan kepercayaan diri, penilaian diri, yang realistis, dan rasa humor yang mencela diri sendiri.
- Swakelola ; diperlihatkan dengan sifat layak dipercaya dan integritas, nyaman menghadapi ambiguitas, dan keterbukaan terhadap perubahan.
- Motivasi diri ; diperlihatkan dengan dorongan yang kuat untuk mencapai prestasi, optimisme, dan komitmen organisasi yang tinggi.
- Empati ; diperlihatkan dengan keahlian membangun dan mempertahankan bakat, kepekaan lintas budaya , dan layanan terhadap klien dan pelanggan.
- Keterampilan sosial ; diperlihatkan dengan kemampuan memimpin upaya perubahan, pembujukan, dan keahlian membangun dan memimpin tim.
H. MENEMUKAN DAN MENCIPTAKAN PEMIMPIN YANG EFEKTIF
Berikut beberapa cara yang dapat dilakukan untuk dapat menemukan pemimpin yang efektif :
- SELEKSI
Yaitu serangkaian proses yang ditempuh organisasi untuk mengisi posisi manajemen pada hakikatnya merupakan latihan dalam upaya mengidentifikasi individu-invividu yang akan menjadi pemimpin yang efektif .
Pencarian ini dapat dimulai dengan:
Ø meninjau persyaratan spesifik untuk posisi yang diisi . pengetahuan , keterampilan, dan kemampuan apa yang dibutuhkan untuk melakukan pekerjaan yang efektif harus menjadi focus utama.
Ø Tes kepribadian dapat digunakan juga untuk mencari sifat-sifat yang terkait dengan kepemimpinan. Ambisi, energi, keinginan memipmpin, kejujuran dan integritas, kepercayaan diri, intelegensia, dan pengetahuan yang relevan dengan jabatan.
Ø Wawancara juga memberikan peluang untuk mengevaluasi calon pemimpin. Dari kegiatan wawancara ini bisa kita ketahui pengalaman-pengalaman yang spesifik untuk mendekati kecocokannya dengan kriteria pemimpin yang diinginkan.
- PELATIHAN
Upaya kegiatan pelatihan tampil dalam berbagai bentuk mulai dari program kepemimpinan eksekutif . Kegiatan ini dapat meningkatkan kemampuan individu untuk memperlihatkan ciri kepemimpinan kharismatik sesuai keinginan organisasi.
KEKUASAAN
Kekuasaan merujuk kepada kapasitas yang dimiliki A untuk mempengaruhi perilaku B , sehingga B bertindak sesuai dengan keinginan A.
Kekuasaan bisa ada tetapi tidak digunakan. Oleh karena itu, kekuasaan adalah kapasitas atau potensi. Orang dapat mempunyai kekuasaan tetapi tidak memaksakan penggunaannya.
Agaknya aspek paling penting dari kekuasaan adalah bahwa kekuasaan merupakan fungsi dari ketergantungan. Makin besar ketergantungan B pada A , semakin besar kekuasaan A dalam hubungan itu. Selanjutnya, ketergantungan itu didasarkan pada alternatif-alternatif yang dipersepsikan oleh B dan arti penting yang ditempatkan B pada alternatif yang dikendalikan oleh A.
1. Perbedaaan kepemimpinan dan kekuasaan
Pembedaaan yang cermat atas penggambaran kita tentang kekuasaan dengan penggambaran kita tentang kepemimpinan dalam bab sebelumnya mengukapkan bahwa kedua konsep itu terjalin dengan erat . para pemimpin menggunakan kekuasaan sebagai alat untuk mencapai tujuan kelompok. Pemimpin mencapai sasaran, dan kekuasaan merupakan saran untuk memudahkan pencapaian sasaran itu.
Apakah perbedaan antara kedua istilah itu ? satu perbedaaan berkaitan dengan kompatibilitas sasaran. Kekuasaan tidak menuntut kompatibilitas sasaran, kekuasaan menurut sekedar ketergantungan. Dipihak lain kepemimpinan menuntut kongruensi antara sasaran pemimpin dan para pengikut nya.
Kepemimpinan berfokus pada pengaruh kebawah terhadap bawahan seseorang. Kepemimpinan meminimalkan pentingnya pola pengaruh kesamping dan keatas. Kekuasaan tidak demikian. Masih terdapat perbedaan lain yang terkait dengan tekanan riset.
Sebaliknya, riset mengenani kekuasaaan cenderung melingkupi bidang yang lebih luas dan berfokus pada taktik untuk memperoleh kepatuhan. Riset itu telah jauh melampaui individu sebagai pelaksana karena kekauasaan dapat di gunakan oeleh kelompok manapun oelh individu-individu untuk mengendalaikan indiidu atau keompok lain.
2. Dasar-Dasar kekuasaan
A. Kekuasaan formal
Kekuasaan formal didasarkan pada posisi individu dalam organisasi. Kekuasaan formal dapat berasal dari kemampuan untuk memaksa atau menghadiahi, dari wewenang formal, atau dari kendali atas informasi.
Ø Kekuasaan Paksaan dasar Kekuasaan paksaan adalah ketergantungan pada rasa takut. Seseorang bereaksi terhadap kekuasaan ini karena rasa takut akan akibat negative karena rasa takut akan akibat negative yang mungkin terjadi jika ia gagal mematuhi. Kekuasaan itu bertumpu pada penerapan, atau ancaman penerapan, sanksi-sanksi fisik seperti misalnya dikenakannya rasa sakit, ditimbulkannya frustuasi melalui dorongan kebutuhan psikologi dasar atau kebutuhan keselamatan.
Ø Kekuasaan hadiah lawan dari kekuasaaan paksaan adalah kekuasaan imbalan. Orang-orang mematuhi kemauan atau pengarahan orang lain karena pematuhan itu menghasilkan manfaat yang positif, oleh karena itu, seseorang yang dapat membagi-bagikan imbalan yang dianggap berharga oleh orang-orang lain akan mempunyai kekuasaan atas mereka. Imbalanitu dapat berupa keuangan-keuangan seperti mengendalaikan tingkat upah, kenaikan, dan bonus atau keuangan yang mencakup pengakuan jasa, promosi, pengusaha kerja yang menarik, rekan kerja yang bersahabat dan giliran kerja tau wilayah penjualan yang di sukai.
Ø Kekuasaan hukum dalam kelompok formal dan organisasi, agaknya akses yang paling sering ke satu atau lebih dasar kekuasaan adalah posisi structural seseorang ini disebut kekuasaan hukum kekuasaan itu menggambarkan wewenang foramal untuk mengendalikan dan menggunakan sumberdaya oraganisasi. Posisi wewenang mencakup kekuasaan paksaan dan kekuasaan imbalan. Secara spesifik kekuasaan hukum mencakup penerimaan baik wewenang jabatan oleh anggota-anggota organisai,
Ø Kekuasaan informasi sumber keempat dari kekuasaan formal kekuasaan informasi berasal dari akses ke dan pengendalaian atas informasi. Orang-orang dalam membuat orang lain tergantung pada mereka. Para manajer, misalnya karena akses mereka yang istimewa ke data penjualan, biaya, gaji , laba, dan data serupa,dapat menggunakan informasi ini untuk mengendalikan dan membentuk prilaku bawahan. Sama halnya, departemen yang memiliki informasi yang penting bagi kinerja perusahaan pada masa-masa yang sangat tidak pasti misalnya departeman hukum ketika perusahaan pada masa-masa yang sangat tidak pastimisalnya departemen hukum ketika perusahaan menghadapi tuntutan perkara besar atau departemen sumber daya manusia selama perundiangan tenaga kerja yang penting akan mendapat kekuasaan yang bertamabh dalam oraganisasi mereka sampau ketidak pastian-pastian itu selesai.
B. Kekuasaan Personal
Kekuasaan Pakar adalah pengaruh yang dimiliki sebagai akibat dari kepakaran atau keahlian, ketrampilan istimewa, atau pengetahuan. Kepakaran telah menjadi salah satu sumber pengaruh yang paling ampuh karena dunia telah menjadi semakin berorientasi tekhnologi, karena pekerjaan menjadi lebih terspesialisasi, kita menjadi semakin bergantung pada pakar untuk mencapai sasaran.
Kekuasaan Rujukan didasarkan pada identifikasi dengan orang yang mempunyai sumberdaya atau cirri pribadi yang diinginkan. Jika saya menghormati dan mengaggumi anda, anda dapat menjalankan kekuasaan terhadap saya karena saya ingn menyengankan anda.
Kekuasaan rujukan berkembang dari pengaguman terhadap orang lain dan hasrat untuk menjadi seperti orang tersebut. Kekuasaan ini membantu menjelaskan mengapa selebriti orang terebut. Kekuasaan ini membantu menjelaskan mengapa selebriti di bayar jutaan dollar untuk mendukung produk dalam iklan.
Kekuasaan kharismatik basis kekuasaan yang berakhir adalah perluasan dari kekuasaan rujukan yang berassal dari kepribadian dan gaya interpersonal individual. Seperti sudah dikemukakan dalam bab sebelumnya, para pemimin kharismatik membuat yang lain mengikuti mereka karena mereka dapat mengartikulasikan visi yang menarik, mengambil resiko pribadi,.
3. Taktik kekuasaan
Dalam ringakasan ini kita diberi kekuasaan yang luas mengenai taktik kekuasaan bagaimana cara karyawan manajerial mempengaruhi orang lain dan kondisi di mana satu taktik dipilih dan bukannya taktik lain. Temuan tersebut mengidentifikasi tujuh dimensi taktik strategi :
1. Nalar : Gunakan fakta dan data untuk membuat penyajian gagasan yang logis atau rasional
2. Keramahan : Gunakan sanjugan, penciptaan goodwill, bersikap rendah hati,dan bersikap bersahabat sebelum mengemukakan suatu permintaan.
3. Koalisi : Dapatkan dukungan orang-orang lain dalam organisasi untuk mendukung permintaan itu
4. Tawar menawar : Gunakan perundiangan melalui pertukaran manfaat atau keuntungan
5. Ketegasan : Gunaakn pendekatan yang langsung dan kuat seperti misalnya menuntu pemenuhan permintaan, mengulangi peringatan, memerintahkan individu melakukan apa yang diminta, dan menujukan bahwa aturan menuntut pematuhan
6. Otoritas lebih tinggi : Dapatkan dukungan dari tingkat lebih tinggi dalam oraganisasi untuk mendukung permintaan
7. Sanksi : gunakan imbalan dan hukuman yang ditentukan oleh oraganisasi seperti misalnya mencegah tau menjanjikan kenaikan gaji, mengancam dan memberikan penilaian kinerja yang tidak memuaskan tau menahan promosi.
Para peneliti tersebut menemukan bahwa para karyawan tidak mengadalkan ketujuh taktik itu secara sama. Akan tetapi, seperti ditunjukan dalam peerage 13-2, strategi yang paling popular adalah penggunaan nalar, tidak peduli apakah pengaruh itu diarahkan keatas atau kebawah. Disamping itu, para peneliti menemukan limavariabel kontinjensiyang mempengaruhi pemilihan taktik kekuasaan, kekuasaan reality manajer, sasaran pengaruh manajer, harapan manajer akan kesediaan orang sasarna untuk patuh, budaya oraganisasi, dan perbedaaan lintass budaya.
Kekuasaan relative manajer berdampak pada pemilihan taktik dalam 2 cara . pertama, manajer yang mengendalikan sumberdaya yang dianggap berharga oleh orang lain, atau yang dipersepsikan sebagai berada dalam posisi yang dominan, mengguanakn taktik yang jauh lebih dari beraneka ragam daripada mereka yang kekuasaannya kecil. Kedua, manajer yang memiliki kekuatan akan lebih sering menggunakan ketegasan dari pada kekuasaannya yang kecil.
4. Kekuasaan dalam kelompok
Kekuasaan dalam kelompok sama dengan koalisi yaitu kelompok informal yang terikat bersama oleh pengejaran aktif atas satu isu tunggal. Koalisi yang berhasil ternyata mengandung keanggotaan yang berubah-ubah dan bisa cepat terbentuk, mencapai isu sasaran, dan cepat menghilang. Dalam hal ini terdapat beberapa perkiraan mengenai pembentukan koalisi, yaitu :
o Perkiraan pertama => Koalisi dalam organisasi sering berupaya memaksimalkan ukurannya.
Ini berarti mengupayakan peningkatan jumlah anggota guna mendukung sasaran-sasaran koalisi. Perluasan koalisi untuk memudahkan pembentukan konsensus ini, lebih mungkin terjadi dalam budaya organisasi dimana kerjasama, komitmen, dan pengambilan keputusan bersama sangat di hargai.
o Perkiraan kedua => Koalisi terkait dengan kadar kesalingtergantungan di dalam organisasi.
Ini berarti kemungkinan besar lebih banyak koalisi akan tercipta dimana terdapat terdapat banyak kesalingtergantungan tugas dan sumber daya. Pembentukan koalisi akan dipengaruhi oleh tugas-tugas aktual yang dijalankan oleh para pekerja. Semakin rutin tugas kelompok, semakin besar kemungkinan koalisi yang akan terbentuk.
5. Pelecehan seksual : Ketimpangan kekuasaan di tempat kerja
Pelecehan seksual di definisikan sebagai kegiatan apapun yang tidak diinginkan bersifat seksual yang sangat mempengaruhi pekerjaan individu tertentu. Topik pelecehan seksual ini dibahas karena berkaitan dengan kekuasaan.
Sebagian besar penelitian membenarkan bahwa konsep kekuasaan menjadi inti bagi pemahaman pelecehan seksual. Tampaknya hasil penelitian ini berlaku pada apakah pelecehan itu berasal dari penyelia, rekan sekerja atau bahkan bawahan. Kemungkinan besar masalah pada akhir-akhir ini muncul dalam bentuk pelecehan seksual yang lebih halus seperti : lelucon yang mesum, memasang gambar-gambar porno di tempat kerja, atau kesalahan penafsiran mengenai garis batas antara berakhirnya “menjadi sahabat” dan mulainya “pelecehan”.