Pages

Thursday, March 31, 2011

RUMA BOLON

“Negara yang kaya budaya”. Julukan yang bukan hanya isapan jempol belaka terikat erat untuk negara Indonesia. Keanekaragaman serta kekayaan adat istiadat mewarnai setiap tanah dan rakyatnya. Salah satu daerah yang memiliki kebudayaan serta alam yang memukau berada di barat Indonesia, Tanah Batak, atau Tapanuli. Daerah Tapanuli terdiri dari beberapa Kabupaten yang sebagian besar hasil pemekaran, diantaranya Kabupaten Tapanuli Utara, Kabupaten Humbang Hasundutan, Kabupaten Toba Samosir, dan Kabupaten Samosir. Daerah yang terkenal dengan danau Toba-nya yang indah serta pemandangan pulau Samosir yang menakjubkan berada di provinsi Sumatera Utara ini sudah memiliki nama bagi bangsa Indonesia bahkan dunia. Banyak potensi dan kekayaan yang perlu dan perlu untuk dieksplor dan diberdayakan. Selain untuk melestarikan budaya juga dapat menambah nilai jual dalam pariwisata.

            Adalah Ruma Bolon yang merupakan rumah adat masyarakat Tapanuli. Rumah panggung dan terbuat dari kayu ini memiliki atap runcing berbentuk segitiga. Rumah yang dibagian bawahnya biasanya menjadi tempat ternak ini sudah berumur ratusan tahun. Ada yang menarik dari rumah ini, yaitu memiliki gorga. Gorga yakni ukiran atau pahatan yang terdapat di bagian luar atau dinding rumah Bolon ini. Ukiran ini bukan sembarang ukiran. Setiap gorga mempunyai makna tersendiri sesuai motifnya. Pada zaman dahulu, masyarakat asli Tapanuli membuat gorga memakai darah hewan (seperti babi dan kerbau) sebagai catnya. Dan terdiri dari tiga warna, yakni hitam, putih dan merah. Darah tersebut dicampur dengan rempah lain agar lebih tahan lama dan berwarna.

            Tidak hanya gorga, masih ada hal unik lainnya. Rumah bolon ini ternyata tidak memiliki kamar-kamar seperti rumah lazimnya. Meski demikian, Ruma Bolon dibatasi oleh adat tersendiri. Ada bagian-bagian rumah yang dianggap keramat dan tidak boleh ditempati sembarangan seperti *Jabu Bong yang hanya boleh ditempati oleh kepala pemilik rumah, isteri dan anak-anaknya yang masih kecil. Lain halnya dengan *Jabu Soding yang ditempati oleh anak perempuan pemilik rumah yang sudah menikah atau dewasa, tetapi belum memiliki tempat tinggal sendiri. *Jabu Suhat merupakan bagian Ruma Bolon yang ditempati untuk anak tertua laki-laki yang kelak bisa akan menjadi pemilik rumah. Sedangkan tempat untuk para tamu yang datang ialah *Tampar Piring. Tiang-tiang yang tingginya sekitar 1,75 cm yang menjadi tumpuan Ruma Bolon terbuat dari kayu kokoh dan berdiameter 20 cm ini cukup kuat untuk menopang Ruma Bolon beserta isinya untuk puluhan tahun lamanya. Bahkan, disalah satu perkampungan di Kabupaten Samosir (Onan Runggu) ada Ruma Bolon yang umurnya mencapai 70 tahun. Padahal rumah ini terbuat dari bahan-bahan yang sangat sederhana dan alami. Sungguh mengagumkan.

Masyarakat Tapanuli yang kental akan adat istiadatnya meyakini bahwa Ruma Bolon dapat membawa berkah tersendiri bagi penghuninya. Selain untuk berteduh dan melakukan aktivitas sehari-hari, ada bagian Ruma Bolon (sopo) yang dijadikan sebagai tempat untuk bermusyawarah antar penduduk kampung. Membicarakan hal-hal penting seperti acara-acara adat, pertemuan para ketua-ketua adat, pertemuan sanak keluarga kerap dilakukan di dalam Sopo ini. Ruma Bolon bisa ditempati lebih dari satu keluarga. Dan pembagiannya ditentukan secara bersama-sama.

Namun, dibalik keperkasaan dari Ruma Bolon, ada tersimpan kekhawatiran laten. Keberadaan Ruma Bolon sudah mulai tidak eksis lagi di masyarakatnya sendiri. Sepertinya terjadi evolusi besar-besaran sehingga Ruma Bolon pun mengalami perombakan besar sehingga jauh dari bentuk aslinya. Zaman yang berganti serta kesuksesan masyarakat perantau yang pulang kembali ke kampung halamannya, yang sengaja atau tidak sengaja membawa pengaruh tersendiri, sehingga timbul indikasi merombak sebagian atau bahkan seluruh bentuk Ruma Bolon menjadi lebih baik dan berfungsi layaknya rumah kebanyakan menurut anggapan mereka. Dalam satu desa di daerah Tapanuli belum tentu terdapat satu Ruma Bolon. Miris. Perlahan namun pasti salah aset berharga budaya ini pun hilang diterjang waktu dan globalisasi. Sudah terlalu ramai rumah beton dan rumah panggung modern lainnya yang menghiasi perkampungan masyarakat daerah Tapanuli sehingga menggeser posisi Ruma Bolon.

Tidak salah juga ada istilah yang menyebutkan Ruma Bolon rumah yang hilang. Bagaimana tidak, dengan kondisi seperti pemaparan diatas, istilah tersebut cocok dengan faktanya. Kondisi ini mencerminkan kesadaran untuk melestarikan budaya mulai memudar. Padahal dengan budayalah kita dapat memperkenalkan diri serta dapat menjadi identitas mutlak kepada masyarakat atau bangsa lain. Bukan hanya dari segi masyarakatnya saja, pemerintah pun terlihat kurang tanggap (khususnya Dinas Pariwisata) dalam mencerna fenomena ini. Tidak terdapat dorongan atau motivasi yang dapat meningkatkan kesadaran masyarakat dalam melestarikan Ruma Bolon. Padahal ada beberapa hal yang dapat dilakukan, sebagai contoh dengan mengadakan lomba Ruma Bolon terbaik atau kampung teladan. Dengan pengadaan lomba ini, dapat menimbulkan rangsangan baru bagi masyarakat untuk memberikan yang terbaik demi nama kampung mereka sekaligus lebih menggali lagi adat melalui Ruma Bolon yang hampir punah.

Sangat dan sangat diharapkan agar setiap kalangan dapat berpartisipasi untuk lebih peduli terhadap aset kita yang satu ini. Terlebih untuk masyarakat dan pemerintah yang berdomisili di daerah sekitar Tapanuli agar lebih meluangkan sedikit waktunya untuk memperhatikan fenomena ini serta mengambil tindakan tepat guna untuk menyelamatkan Ruma Bolon dari kepunahan. Belum terlambat untuk berbuat besar dengan langkah kecil. Mari saling gandeng tangan untuk tetap mencintai serta melestarikan budaya kita. HORAS.


Catatan:
*Jabu bong      : bagian belakang Ruma Bolon di sebelah kanan
*Jabu Soding : bagian belakang Ruma Bolon di sebelah kiri berhadapan dengan Jabu Bong
*Jabu Suhat     : bagian depan Ruma Bolon di sebelah kiri
*Tampar Piring : bagian depan Ruma Bolon di sebelah kanan


No comments:

Post a Comment