Pages

Saturday, April 2, 2011

Malu atau apatis dengan ke-Batak-an???

Sewaktu berumur 7 tahun, saya sering diajak oleh kedua orang tua saya untuk mengikuti berbagai acara atau perhelatan yang sifatnya kedaerahan (acara orang Batak). Ketika diperkenalkan kepada salah seorang saudara, entah mengapa saya selalu menanyakan “mam, Lin harus manggil apa?”. Wajar dan pasti sebelumnya juga orang tua saya akan memberi tahu terlebih dahulu panggilan apa yang seharusnya diucapkan bila bertemu. Namun, hal ini bukan hanya ketika diperkenalkan saja, sering kali ketika ada orang yang datang bertamu ke kediaman orang tua saya dan apabila mereka menggunakan bahasa batak, saya selalu bertanya, “mam, Lin panggil apa? Dan tadi bicara apa? Koq Lin ga ngerti?”.

Sepintas, saya teringat hal ini karena saya sedang melihat beberapa fenomena agak aneh di sekitar lingkungan saya yang nota bene sudah pindah ke negeri asal (orang tua di Balige dan saya sedang menyelesaikan pendidikan S1 di Medan). Secara otomatis, orang yang sering ditemui pun kebanyakan berasal dari suku yang sama, Batak. Namun, sekilas saya melihat hal aneh yakni sebagian sepupu saya, yang saya anggap cakap untuk melakukan hal diatas seperti saya, malah tidak melakukan hal yang sama. Sering dalam perkumpulan sesama keluarga besar baik dari mama atau ayah saya, para sepupu saya terlihat kurang menunjukkan rasa penasaran yang saya alami dulu.

Tinggalkan sejenak masa kecil itu. Pada orang dewasa pun sering saya temui mereka yang bisa dikatakan kurang peduli dengan pengetahuan dasar adatnya. Seperti, tidak mengetahui nomer marganya (sebagian besar suku Batak mempunyai nomer silsilah dalam marganya), asal marga mereka, dan beberapa istilah lain dalam silsilah (partuturan). Sungguh miris rasanya. Saya tidak ingin menyalahkan siapa dengan siapa. Karena ini, bukanlah tugas individual, melainkan tigas bersama untuk menumbuhkan sikap rasa ingin tahu dan ingin belajar tentang adat budaya.

Terkadang saya bingung dengan sikap beberapa orang yang acuh dengan tradisi atau adat daerahnya. Apakah mereka malu menjadi masyarakat suku tersebut?atau memang rasa apatis itu sudah mulai berkembang meraja dengan beralaskan kemajuan zaman yang semakin modern? Entah apapun alasannya, hal ini jangan dibiarkan berlarut-larut. Karena siapa lagi yang bisa melestarikan budaya itu, jika bukan kita sang generasi penerus? Bukan alasan hidup di daerah perkotaan, jauh dari kampung halaman, dan sejumlah alasan lainnya yang mentasanamakan tindakan dan sikap tersebut.

Jika kesadaran itu semakin berkurang, maka sedikit demi sedikit, budaya itu pun akan terkikis dan hilang. Padahal budaya merupakan jati diri bangsa yang juga menunjukkan integritas bangsa itu sendiri. Saya bangga menjadi orang batak. Walaupun sifatnya patrilineal, sebagai wanita batak, saya merasa harus tahu sedikit demi sedikit ada batak itu seperti apa. Bukan ingin menjadi seorang yang ahli (raja parhata/raja adat) dalam budaya, tetapi sekedar ingin menjaga kebudayaan itu serta bisa berbagi ke orang lain (khususnya orang Batak) mengenai budayanya yang cukup rumit namun mengesankan.
Banggalah menjadi orang Batak serta berbudayalah untuk budaya bangsa kita. Saya Yulin Samosir. Samosir Sidari no.15 dari Sosor Mangadar, Tambun, Samosir. Horas





No comments:

Post a Comment