Setelah melakukan pembenahan berpakaian, saya pun siap untuk meluncur ke kampus tercinta. Tapi tidak berapa saat, saya merasa lemas, kehilangan tenaga, pusing, agak demam. Padahal saya sudah menyantap sarapan pagi ala anak kost. Saya mulai terlihat pucat, ini tercermin dari pantulan kaca lemari di kost saya. Saya pun menelon ibunda untuk meminta saran dan semangat. Dengan ucapan meyankinkan bahwa ini akan baik-baik saja menanggapi saran ibu untuk ujian susulan saja.
Saya pun mulai merasa panik, 30 menit lagi ujian akan berlangsung. Tetapi dengan kondisi seperti ini, saya miris akan dapat melewati ujian dengan baik, walau semudah apapun soal yang akan diberikan. Saya berteriak di dalam hati, "Ampuni saya Tuhan, tolonglah saya". Kata-kata ini mencerminkan rasa berdosa saya karena telah menyia-nyiakan waktu untuk belajar maksimal dan hanya belajar sekadarnya. Saya merasa Tuhan menegur saya dengan sikap itu. Saya bersyukur.
Pasrah dan sepasrah-pasrahnya, saya melangkahkan kaki menuju kampus. Masih duduk di depan ruangan tempat saya ujian, saya masih merasa lemas dan tak berdaya. Tak henti-hentinya teriakan tadi saya ucapkan lirih di hati saya. Pengawas pun tampak dari kejauhan dengan membawa lembaran demi lembaran menuju ruang ujian saya. Dengan langkah gontai, saya masuk ruang ujian dan sekali lagi berkata "KehendakMu jadilah".
Dalam mengerjakan setiap soal yang diberikan, saya merasa mendapatkan kekuatan baru yang luar biasa, Walau masihtetap merasa lemah tetapi jari saya sungguh apik dalam menrangkai kata demi kata di lembar jawaban. Terima kasih Tuhan. Engkau sungguh bekerja. Ujian pun berakhir dengan senyum dalam hatiku. Saya tak peduli dengan hasilnya nanti. Saya sudah bekerja dengan kekuatan Bapa yang begitu baik. Dan Saya pun percaya Tuhan akan menunjukkan kembali mujizatNya dalam hasil ujian saya nanti.
Terima kasih Allah atas teguranMU..
Engkau tidak akan membiarkanku jatuh sampai tergeletak.
Engkau mengajarkanku dengan caramu yang luar biasa..
Aku mencintaiMU Bapa..
No comments:
Post a Comment